MENATA HATI, MENJAGA AKHLAK, DAN MEMPERSIAPKAN AKHIRAT
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, kami menyediakan banyak waktu untuk mengurus pekerjaan, penghasilan, rumah, dan berbagai kebutuhan keluarga. Semua itu memiliki tempatnya. Akan tetapi, di tengah kesibukan tersebut, sudahkah kita menyediakan waktu untuk memeriksa keadaan hati?
Apakah hati kita semakin dekat kepada Allah? Apakah ucapan kita semakin menenteramkan orang lain? Apakah bertambahnya usia membuat kita semakin siap menghadapi akhirat?
Pada kesempatan ini, marilah kita memikirkan enam pesan Al-Qur'an sebagai tutunan untuk menata kehidupan.
Pertama, menyadari bahwa Allah mengetahui keadaan kita.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Qaf ayat 16:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan mengetahui bisikan dalam dirinya. Allah menyatakan kedekatan-Nya kepada manusia melebihi urat yang menirunya. Tidak ada keadaan batin kita yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.
Jamaah yang dirahmati Allah.
Manusia melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui apa yang kita simpan. Orang lain mungkin melihat senyum kita, tetapi Allah mengetahui kegelisahan kita. Orang lain mungkin memuji amal kita, tetapi Allah mengetahui niat yang melandasinya.
Kesadaran ini hendaknya menumbuhkan kejujuran. Saat bekerja, kita tetap menjaga amanah meski tidak bersantai. Saat berdagang, kami tetap menjelaskan keadaan barang dengan benar. Ketika menggunakan uang yang dititipkan kepada kita, kita berhati-hati karena mengetahui bahwa semuanya akan dipertanggungjawabkan.
Kesadaran ini juga menguatkan hati saat menghadapi kesulitan. Ada kesedihan yang sulit kita ceritakan. Ada perjuangan yang tidak diketahui orang lain. Namun, Allah mengetahui semuanya. Oleh karena itu, jangan berhenti berdoa dan berusaha.
Kedua, memahami bahwa kehidupan dunia akan berlalu.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Al-Hadid ayat 20:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dalam ayat ini, Allah mengingatkan tentang permainan, kelalaian, perhiasan, kebanggaan, dan persaingan memperbanyak harta serta keturunan. Semuanya diumpamakan seperti tanaman yang tumbuh mengagumkan setelah hujan, kemudian menguning, mengering, dan hancur. Ayat ini memusatkan perhatian kita pada akhirat, tempat adanya azab, juga rahmat dan keridaan Allah.
Jamaah sekalian.
Betapa seringnya manusia kelelahan karena terus membandingkan kehidupan. Melihat rumah orang lain, rumah sendiri terasa kurang. Melihat penghasilan orang lain, kenikmatan yang diterima terasa kecil. Melihat keberhasilan anak orang lain, anak sendiri justru dibebani tuntutan dan perbandingan.
Padahal, setiap kenikmatan membawa tanggung jawab. Harta perlu diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan dengan benar. Anak perlu dibimbing dengan kasih sayang. Jabatan perlu dijalankan dengan adil.
Marilah kita mencari nafkah dengan sungguh-sungguh, sekaligus menjaga shalat. Marilah kita membangun masa depan keluarga, sekaligus menanamkan iman dan akhlak. Marilah kita menikmati rezeki yang halal, sekaligus menyisihkan hak mereka yang membutuhkan.
Waktu yang kita miliki terus berkurang. Maka, jangan sampai seluruh tenaga habis untuk mengumpulkan sesuatu yang akan ditinggalkan, sementara bekal untuk menghadap Allah terus ditunda.
Ketiga, menjadikan Rasulullah sebagai teladan.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah merupakan teladan yang baik bagi mereka yang mengharapkan Allah dan hari akhir, serta banyak mengingat-Nya.
Jamaah yang dimuliakan Allah.
Kecintaan kepada Rasulullah hendaknya hadir dalam perilaku sehari-hari. Kita belajar jujur ketika berbicara, menepati janji, menjaga amanah, dan memperlakukan keluarga dengan baik.
Di rumah, keteladanan itu dapat kita mulai dengan mendengarkan pasangan dan anak-anak. Di tempat kerja, kami mewujudkannya dengan menjalankan kewajiban secara bertanggung jawab. Di tengah masyarakat, kami menunjukkan melalui kesediaan menolong dan menghormati sesama.
Pada pendapat yang berbeda, jagalah adab. Saat memiliki kekuasaan, adillah berlaku. Saat orang lain melakukan kesalahan, sampaikan nasihat dengan cara yang membuka pintu perbaikan.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: apakah keluarga merasakan kebaikan dari ibadah kita? Apakah tetangga merasa aman dari ucapan dan tindakan kita? Pertanyaan ini membantu kita memeriksa sejauh mana ajaran Rasulullah yang telah kita amalkan.
Keempat, menguatkan diri dengan sabar dan shalat.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 153:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Maknanya, orang-orang beriman diminta memohon pertolongan Allah melalui kesabaran dan shalat. Allah memberikan pertolongan dan keteguhan kepada orang-orang yang bersabar.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah.
Setiap orang menghadapi ujian. Ada yang sedang mencari pekerjaan, ada yang merawat anggota keluarga yang sakit, ada yang berjuang melunasi utang, dan ada yang menghadapi masalah rumah tangga.
Dalam keadaan seperti itu, kita memerlukan kesabaran untuk tetap melakukan yang benar. Sabar menguatkan kita agar terus berikhtiar, mampu mengendalikan amarah, dan tidak mengambil jalan yang haram karena ingin segera keluar dari kesulitan. Orang yang sakit tetap berusaha mendapatkan pengobatan. Orang yang kesulitan ekonomi tetap mencari penghasilan yang halal. Orang yang mengalami perlakuan tidak adil dapat mencari pertolongan dan memperjuangkan haknya dengan cara yang benar.
Bersamaan dengan ikhtiar tersebut, jagalah salat. Sampaikan kebutuhan dan kelemahan kita kepada Allah. Ketika masalah terasa berat, jangan biarkan hubungan kita berlanjut melemah. penyelesaiannya mungkin belum selesai seketika. Namun, kami memohon agar Allah membimbing langkah, menjaga iman, dan memberi kekuatan untuk menjalaninya.
Kelima, menjaga kehormatan sesama.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:
Ayat ini melarang kita memperolok orang lain, saling mencela, dan menggunakan julukan yang buruk. Orang yang direndahkan bisa menjadi lebih baik daripada orang yang dikandungnya. Allah juga menghukum agar pelaku melakukan perbuatan tersebut.
Jamaah sekalian. Kadang-kadang, seseorang menyakiti saudaranya dengan alasan bercanda. Bentuk tubuh dijadikan bahan tertawaan. Kurangnya ekonomi dijadikan sebuah pengalaman. Kesalahan masa lalu terus diungkit. Sebuah julukan tetap digunakan meskipun orang yang merasa terluka.
Marilah kita berhati-hati. Tawa bersama dapat meninggalkan kesedihan pada seseorang yang tidak berani menyampaikan keberatannya.
Larangan ini perlu kita ingat pula saat menggunakan media sosial. Komentar yang kita tulis, gambar yang kita sebarkan, dan pesan yang kita teruskan dapat melukai kehormatan seseorang.
Sebelum berbicara atau mengirim pesan, pikirkan dampaknya. Apakah ucapan itu bermanfaat? Apakah cara penyampaiannya pantas? Apakah kita sedang membantu seseorang memperbaiki diri atau justru mempermalukannya?
Jika pernah menyakiti, beranilah meminta maaf. Jika pernah menyebarkan propaganda, menghentikan penyebarannya dan memperbaiki semampunya. Jangan menunggu kehilangan kesempatan untuk berdamai.
Keenam, menyucikan jiwa sebagai jalan keberuntungan.
Allah SWT. berfirman dalam Surat Asy-Syams ayat 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Ayat ini menjamin kekayaan orang yang menyucikan rasa takut dan kerugian orang yang mengotorinya. Penyucian jiwa dilakukan dengan meninggalkan sifat buruk dan menumbuhkan keimanan, keikhlasan, serta akhlak yang baik.
Jamaah yang dirahmati Allah. Kita membersihkan tubuh dan pakaian setiap hari. Hati pun perlu dirawat. Kesombongan dapat membuat kita sulit menerima nasihat. Kedengkian dapat membuat kita gelisah melihat kebahagiaan orang lain. Riya dapat membuat kita sibuk mencari pujian. Oleh karena itu, biasakanlah memeriksa niat. Perbanyak istigfar. Latihlah diri untuk bersyukur. Sisihkan sebagian rezeki untuk membantu orang lain. Belajarlah mengakui kesalahan tanpa selalu mencari pembenaran. Ketika melihat orang mendapat nikmat, lakukanlah kebaikannya. Ketika menerima nasihat yang benar, terimalah meskipun datang dari orang yang lebih muda. Ketika berbuat baik, mohonlah kepada Allah agar hati kita tetap ikhlas. Jamaah yang dimuliakan Allah.
Keenam pesan ini saling menguatkan. Kesadaran bahwa Allah mengetahui diri kita menumbuhkan kejujuran. Kesadaran singkatnya dunia akan membantu kita menentukan prioritas. Keteladanan Rasulullah membimbing perilaku. Langkah penguatan sabar dan salat. Menjaga kehormatan sesama pemeliharaan persaudaraan. Penyucian jiwa menjaga arah pengabdian kita. Marilah kita pulang dari salat Jumat dengan tekad yang nyata: memperbaiki salat, menjaga salat, menunaikan amanah, dan memaafkan atas kesalahan kita. Semoga Allah memberi kita kesempatan dan kekuatan untuk menjadi hamba yang lebih baik.
بَارَكَ اللهُ لِي
وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ
َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْليِ
هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ
وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


