Muslimin Rahimakumullah,
Perjalanan
manusia melewati beberapa tahap: masa kanak-kanak, masa muda, masa dewasa, dan
masa tua. Setiap tahap mempunyai amanah. Masa muda adalah masa kekuatan dan
pembentukan kebiasaan. Masa dewasa adalah masa tanggung jawab dan kematangan.
Masa tua adalah masa memperbanyak bekal, menenangkan hati, serta meninggalkan
teladan yang baik bagi anak cucu.
Namun,
tidak seorang pun memperoleh jaminan bahwa ia akan mencapai tahap berikutnya.
Ada yang wafat ketika muda, ada yang dipanggil saat berada di puncak karier,
dan ada pula yang diberi umur panjang. Karena itu, yang paling penting bukanlah
seberapa panjang usia kita, melainkan seberapa baik usia itu dipergunakan.
وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا
جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ٣٤
“Setiap
umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya datang, mereka tidak dapat menundanya
sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 34)
Ayat
ini mengajarkan bahwa ajal adalah ketetapan Allah. Kematian tidak menunggu kita
selesai bekerja, tidak menunggu utang lunas, tidak menunggu anak dewasa, dan
tidak menunggu kita merasa siap. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang
yang terus menunda tobat, tetapi orang yang menjadikan setiap hari sebagai
kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Ada
tiga kesadaran yang perlu kita tanamkan.
• Pertama, usia adalah amanah. Waktu tidak
boleh dihabiskan hanya untuk kesenangan, perselisihan, dan perkara yang tidak
bermanfaat.
• Kedua, usia adalah modal. Dengan waktu
yang sama, seseorang dapat memperoleh pahala yang besar atau justru menambah
penyesalan.
• Ketiga, usia adalah saksi. Hari-hari yang
kita lalui kelak akan menjadi bukti tentang apa yang kita kerjakan di hadapan
Allah.
Maka,
jangan menunggu tua untuk beribadah. Jangan menunggu lapang untuk bersedekah.
Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan
untuk meminta maaf. Amal saleh yang paling berharga adalah amal yang dikerjakan
ketika kesempatan masih terbuka.
Al-Qur’an
memberikan perhatian khusus ketika manusia mencapai kematangan usia. Allah
menggambarkan seseorang yang telah dewasa dan mencapai empat puluh tahun, lalu
memohon agar mampu bersyukur, beramal saleh, memperbaiki keturunannya, dan
bertobat kepada-Nya.
Jamaah
Jumat yang Dimuliakan Allah,
... رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ
نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ
صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ
وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ١٥
“Wahai
Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang
Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku.
Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang
muslim.”
(Al-Ahqaf/46:15)
Usia
empat puluh tahun bukanlah batas untuk memulai kebaikan, tetapi sebuah
peringatan tentang kematangan tanggung jawab. Pada usia berapa pun, kita harus
segera memperbaiki diri. Namun semakin bertambah usia, semestinya semakin
berkurang kelalaian, semakin lembut ucapan, semakin terjaga salat, semakin baik
hubungan keluarga, dan semakin besar manfaat kita bagi sesama.
Empat
bekal untuk mengisi sisa umur:
• Perbaiki hubungan dengan Allah
• Perbaiki hubungan dengan manusia: tunaikan
hak, lunasi utang, hentikan permusuhan, dan berani meminta maaf.
• Perbaiki keluarga: didik anak dengan iman,
berbakti kepada orang tua, dan jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya kebaikan.
• Perbanyak amal yang manfaatnya panjang:
ilmu yang diajarkan, sedekah jariyah, bantuan kepada orang lemah, dan teladan
yang baik.
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah,
karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)
Ma’asyiral
Muslimin Rahimakumullah,
Rasulullah
SAW menjelaskan ukuran keberuntungan hidup dengan sabda yang singkat:
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
“Sebaik-baik
manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis
ini tidak menjadikan umur panjang sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Umur
panjang menjadi nikmat apabila dipenuhi kebaikan. Sebaliknya, bertambahnya usia
tanpa perbaikan amal dapat menjadi sebab bertambahnya penyesalan.
Semoga
Allah menjadikan sisa umur kita sebagai umur yang diberkahi, melindungi kita
dari waktu yang sia-sia, memberi kekuatan untuk bertobat sebelum ajal datang,
dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.