Jumat, 19 Desember 2025

Nyanyian Sunyi di Lembah Derita

 Nyanyian Sunyi di Lembah Derita

Di bawah langit yang kelam membisu,
Awan mendung meratap pilu.
Bumi basah, air mata turun tak henti,
Menyanyikan lagu duka, oh sunyi.
Deru air bagai seribu kuda liar,
Menderu, menghantam, tanpa sadar.
Lumpur pekat, hitam kelam warnanya,
Menelan mimpi, harapan, dan tawa.
Tanah longsor, bisikan pilu dari bumi,
Menyeret pohon, rumah, dan diri.
Gunung menangis, air mata mengalir deras,
Meninggalkan jejak luka yang membekas.
Hati bergetar, jiwa pun merana,
Menatap puing, sisa dari bencana.
Namun dalam duka, asa tetap menyala,
Menghangatkan jiwa, walau hati terluka.
Alam berduka, manusia pun meratap,
Mengharapkan mentari 'tuk kembali menatap.
Dalam sunyi, doa tulus terucap syahdu,
Semoga damai kan datang, di lembah derita ini.

Rabu, 17 Desember 2025

Di Balik Banjir, Ada Penjagaan Allah

Di Balik Banjir, Ada Penjagaan Allah

Hujan mulai turun pada 25 November 2025. Awalnya kami mengira hujan itu akan berhenti seperti hari-hari biasa. Namun kenyataannya berbeda. Empat hari empat malam hujan turun tanpa henti. Langit seakan terus mencurahkan air, sungai meluap, dan saluran air tak lagi mampu menampung derasnya aliran.

Perlahan namun pasti, banjir mulai menggenangi rumah kami hingga setinggi pinggang orang dewasa. Perabotan terendam, lantai tak terlihat, dan kami hanya mampu menyelamatkan barang-barang yang paling penting. Dalam kondisi itu, kami berusaha menenangkan diri, saling menguatkan, dan terus berdoa agar Allah memberi keselamatan.

Pada malam pertama, kami mengungsi ke rumah orang tua. Kami berharap air segera surut. Namun keesokan harinya, tepat pada hari Jumat, keadaan justru semakin memburuk. Air kembali naik dan masuk ke rumah orang tua, sehingga kami harus berpindah lagi demi keselamatan bersama.

Akhirnya, kami mengungsi ke rumah orang tua kami di Dusun Getek 1, Desa Pantai Cermin. Di rumah itu kami tinggal bersama tiga keluarga. Meski air terus mengalir deras di sekitar lingkungan, terjadi sebuah peristiwa yang begitu menguatkan iman kami. Air hampir memasuki rumah, tinggal sedikit lagi, namun seolah ada penjagaan dari Allah. Air yang datang deras justru mengalir dan terbuang ke bagian belakang rumah, sehingga rumah tersebut tetap bertahan dan tidak terendam.

Kami meyakini, ini adalah bentuk rahmat dan lindungan Allah. Di tengah ujian besar, Allah menyediakan tempat aman bagi kami untuk berlindung. Di rumah itu kami mengungsi  menjalani hari-hari dengan penuh kesabaran, kebersamaan, dan doa yang tak pernah putus.

Akhirnya, pada Kamis, 11 Desember 2025, air mulai surut sepenuhnya. Kami pun kembali ke rumah untuk membersihkan sisa-sisa banjir. Meski tubuh lelah, hati kami dipenuhi rasa syukur dan semangat baru. Ujian ini mengajarkan kami bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Hikmah dan Pesan Iman

Banjir ini bukan sekadar musibah, melainkan pengingat untuk lebih dekat kepada Allah. Jangan takut menghadapi ujian, karena di balik setiap kesulitan selalu ada pertolongan. Selama kita bersabar, berusaha, dan bertawakal, rahmat Allah akan selalu melindungi.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

Tetaplah bersemangat, jangan berputus asa, dan jangan pernah takut pada masa depan. Lindungan Allah lebih kuat daripada segala bencana, dan rahmat-Nya selalu dekat bagi orang-orang yang beriman.

Tema: Hikmah Musibah, Kewajiban Sabar, dan Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan

 

Tema: Hikmah Musibah, Kewajiban Sabar, dan Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan

Akhir-akhir ini negeri kita kembali diuji oleh berbagai musibah: banjir bandang, tanah longsor, curah hujan ekstrem, serta berbagai bencana alam lainnya yang terjadi di berbagai wilayah. Ada yang kehilangan rumah, kehilangan harta, bahkan ada yang kehilangan keluarga. Musibah-musibah ini terasa berat, melelahkan, dan mengguncang jiwa.

Namun, sebagai seorang mukmin, kita meyakini bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin Allah, dan tidak ada satu pun kejadian yang keluar dari hikmah dan rahmat-Nya. Allah menguji hamba-Nya bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan, membersihkan, mendidik, dan mengembalikan kita kepada jalan-Nya.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS.Al-Baqarah ayat 155–157

﴿ وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ﴾

“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Mereka itulah yang mendapat rahmat dan keberkahan, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat ini sangat tegas menjelaskan bahwa musibah adalah bagian dari perjalanan iman. Tidak ada iman tanpa ujian, tidak ada sabar tanpa cobaan, dan tidak ada keteguhan tanpa guncangan.

Allah berfirman pula dalam QS. Al-Ankabut: 2 “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata ‘Kami beriman’ sedangkan mereka tidak diuji?”

Jamaah yang berbahagia,

Ketahuilah bahwa Allah telah menetapkan sunnatullah dalam kehidupan manusia: setiap manusia pasti diuji. Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa cobaan. Kita diuji dengan kesehatan, diuji dengan sakit. Kita diuji dengan kelapangan, diuji pula dengan kesempitan. Kita diuji dengan rezeki, diuji pula dengan kehilangan.

Ulama mengatakan: "Al-bala’ waddara’ madrasatun lil-mu’min."

Musibah dan cobaan adalah sekolah pendidikan bagi seorang mukmin.

Karena itu, musibah banjir dan longsor yang terjadi bukan sekadar peristiwa alam, tetapi bentuk pendidikan Allah untuk menguji keimanan, kesabaran, kepedulian, dan kualitas ketakwaan kita.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, sakit, kesedihan, duka, gangguan atau kesusahan — bahkan duri yang menusuknya — kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Musibah menghapuskan dosa. Musibah meninggikan derajat. Musibah mendekatkan hamba kepada Allah.

Musibah adalah tanda kasih sayang Allah, bukan kebencian-Nya. Ujian diberikan bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menguatkan.

Seperti besi yang semakin kokoh setelah ditempa, demikian pula seorang mukmin akan semakin kuat setelah diuji.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Sabar bukanlah sikap pasif. Sabar bukanlah menyerah pada keadaan.

Sabar adalah keteguhan hati, ketenangan jiwa, ketundukan kepada Allah, dan kesungguhan memperbaiki keadaan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar, maka itu baik baginya.”(HR. Muslim)

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Musibah banjir dan longsor bukanlah kejadian baru. Setiap tahun di negeri kita terjadi banjir bandang, tanggul jebol, gunung longsor, jalan hanyut, dan rumah-rumah tersapu air. Namun, musibah terus berulang karena kerusakan yang dilakukan oleh tangan manusia sendiri.

Allah berfirman:

﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ﴾

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh ulah manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

 Kerusakan lingkungan, penebangan hutan liar, pembuangan sampah sembarangan, pembangunan tanpa memperhatikan drainase, pencemaran sungai, dan kelalaian menjaga alam menjadi bagian dari penyebab bencana.

Dalam Islam, menjaga alam adalah amalan mulia. Rasulullah bersabda: Dunia ini hijau dan indah. Allah menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.

Karena itu, menghadapi bencana bukan hanya dengan sabar dan doa, tetapi juga dengan memperbaiki perilaku dan menjaga lingkungan

Tiga Hal Penting Setelah Musibah

1. Bersyukur dan bersabar.

   Syukur bagi yang selamat, sabar bagi yang ditimpa ujian.

2. Membantu sesama.

   Bantuan kecil tetap besar di sisi Allah.

3. Menjaga lingkungan.

   Bencana tidak akan berhenti jika kerusakan alam terus dilakukan.

 Semoga Allah mengangkat musibah dari negeri ini.

Rasulullah mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah, beri aku pahala dalam musibahku, dan gantilah untukku yang lebih baik.

 

PUISI : KUN FAYAKUN

 

KUN FAYAKUN

Karya: Dr. H. Muamar Al Qadri, M.Pd

Ketika Allah berfirman dari ‘Arsy-Nya yang Mahatinggi,
seluruh alam semesta tunduk dan patuh.
Langit dan bumi bergerak sesuai kehendak-Nya,
menjalankan perintah dengan penuh ketaatan.

Allah menurunkan tanda-tanda kekuasaan-Nya,
sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia.
Samudra bergemuruh, gunung bergetar,
semua menunjukkan kebesaran Sang Pencipta.

Manusia menyebut nama Allah dalam zikir dan doa,
menyadari keterbatasan diri di hadapan-Nya.
Kun fayakun, apabila Allah berkehendak,
maka terjadilah sesuatu tanpa dapat dihalangi.


Pen : 

Puisi ini mengajarkan bahwa manusia hendaknya
senantiasa taat, bersyukur, dan menjauhi maksiat,
karena hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak
atas kehidupan dan alam semesta.

Nyanyian Sunyi di Lembah Derita

  Nyanyian Sunyi di Lembah Derita Di bawah langit yang kelam membisu, Awan mendung meratap pilu. Bumi basah, air mata turun tak henti, Menya...