Nyanyian Sunyi di Lembah Derita
Jumat, 19 Desember 2025
Nyanyian Sunyi di Lembah Derita
Rabu, 17 Desember 2025
Di Balik Banjir, Ada Penjagaan Allah
Di Balik Banjir, Ada Penjagaan Allah
Hujan mulai turun pada 25 November 2025. Awalnya kami mengira hujan itu akan berhenti seperti hari-hari biasa. Namun kenyataannya berbeda. Empat hari empat malam hujan turun tanpa henti. Langit seakan terus mencurahkan air, sungai meluap, dan saluran air tak lagi mampu menampung derasnya aliran.
Perlahan namun pasti, banjir mulai menggenangi rumah kami hingga setinggi pinggang orang dewasa. Perabotan terendam, lantai tak terlihat, dan kami hanya mampu menyelamatkan barang-barang yang paling penting. Dalam kondisi itu, kami berusaha menenangkan diri, saling menguatkan, dan terus berdoa agar Allah memberi keselamatan.
Pada malam pertama, kami mengungsi ke rumah orang tua. Kami berharap air segera surut. Namun keesokan harinya, tepat pada hari Jumat, keadaan justru semakin memburuk. Air kembali naik dan masuk ke rumah orang tua, sehingga kami harus berpindah lagi demi keselamatan bersama.
Akhirnya, kami mengungsi ke rumah orang tua kami di Dusun Getek 1, Desa Pantai Cermin. Di rumah itu kami tinggal bersama tiga keluarga. Meski air terus mengalir deras di sekitar lingkungan, terjadi sebuah peristiwa yang begitu menguatkan iman kami. Air hampir memasuki rumah, tinggal sedikit lagi, namun seolah ada penjagaan dari Allah. Air yang datang deras justru mengalir dan terbuang ke bagian belakang rumah, sehingga rumah tersebut tetap bertahan dan tidak terendam.
Kami meyakini, ini adalah bentuk rahmat dan lindungan Allah. Di tengah ujian besar, Allah menyediakan tempat aman bagi kami untuk berlindung. Di rumah itu kami mengungsi menjalani hari-hari dengan penuh kesabaran, kebersamaan, dan doa yang tak pernah putus.
Akhirnya, pada Kamis, 11 Desember 2025, air mulai surut sepenuhnya. Kami pun kembali ke rumah untuk membersihkan sisa-sisa banjir. Meski tubuh lelah, hati kami dipenuhi rasa syukur dan semangat baru. Ujian ini mengajarkan kami bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Hikmah dan Pesan Iman
Banjir ini bukan sekadar musibah, melainkan pengingat untuk lebih dekat kepada Allah. Jangan takut menghadapi ujian, karena di balik setiap kesulitan selalu ada pertolongan. Selama kita bersabar, berusaha, dan bertawakal, rahmat Allah akan selalu melindungi.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. Al-Insyirah: 6)
Tetaplah bersemangat, jangan berputus asa, dan jangan pernah takut pada masa depan. Lindungan Allah lebih kuat daripada segala bencana, dan rahmat-Nya selalu dekat bagi orang-orang yang beriman.
Tema: Hikmah Musibah, Kewajiban Sabar, dan Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan
Tema: Hikmah Musibah, Kewajiban Sabar, dan Tanggung Jawab Menjaga Lingkungan
Akhir-akhir ini negeri kita kembali diuji oleh berbagai musibah: banjir bandang, tanah longsor, curah hujan ekstrem, serta berbagai bencana alam lainnya yang terjadi di berbagai wilayah. Ada yang kehilangan rumah, kehilangan harta, bahkan ada yang kehilangan keluarga. Musibah-musibah ini terasa berat, melelahkan, dan mengguncang jiwa.
Namun, sebagai seorang mukmin, kita
meyakini bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi tanpa izin Allah,
dan tidak ada satu pun kejadian yang keluar dari hikmah dan rahmat-Nya. Allah
menguji hamba-Nya bukan untuk melemahkan, tetapi untuk menguatkan,
membersihkan, mendidik, dan mengembalikan kita kepada jalan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman dalam QS.Al-Baqarah ayat 155–157
﴿
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ
الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ اَلَّذِيْنَ
اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ
رٰجِعُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ
ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ ﴾
“Sungguh Kami akan menguji
kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.
Mereka itulah yang mendapat
rahmat dan keberkahan, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini sangat tegas menjelaskan
bahwa musibah adalah bagian dari perjalanan iman. Tidak ada iman tanpa
ujian, tidak ada sabar tanpa cobaan, dan tidak ada keteguhan tanpa guncangan.
Allah berfirman pula dalam QS. Al-Ankabut: 2 “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata ‘Kami beriman’ sedangkan mereka tidak diuji?”
Jamaah yang berbahagia,
Ketahuilah bahwa Allah telah
menetapkan sunnatullah dalam kehidupan manusia: setiap manusia pasti diuji.
Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa cobaan. Kita diuji dengan
kesehatan, diuji dengan sakit. Kita diuji dengan kelapangan, diuji pula dengan
kesempitan. Kita diuji dengan rezeki, diuji pula dengan kehilangan.
Ulama mengatakan: "Al-bala’ waddara’ madrasatun lil-mu’min."
Musibah dan cobaan adalah
sekolah pendidikan bagi seorang mukmin.
Karena itu, musibah banjir dan longsor
yang terjadi bukan sekadar peristiwa alam, tetapi bentuk pendidikan Allah untuk menguji keimanan, kesabaran, kepedulian, dan kualitas ketakwaan kita.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan, sakit, kesedihan, duka, gangguan atau kesusahan — bahkan duri yang menusuknya — kecuali Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Musibah menghapuskan dosa. Musibah
meninggikan derajat. Musibah mendekatkan hamba kepada Allah.
Musibah adalah tanda kasih sayang
Allah, bukan kebencian-Nya. Ujian diberikan bukan untuk menghancurkan, tetapi
untuk menguatkan.
Seperti besi yang semakin kokoh
setelah ditempa, demikian pula seorang mukmin akan semakin kuat setelah diuji.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sabar bukanlah sikap pasif. Sabar
bukanlah menyerah pada keadaan.
Sabar adalah keteguhan hati, ketenangan
jiwa, ketundukan kepada Allah, dan kesungguhan memperbaiki keadaan.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan jika ia ditimpa musibah ia bersabar, maka itu baik baginya.”(HR. Muslim)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Musibah banjir dan longsor bukanlah
kejadian baru. Setiap tahun di negeri kita terjadi banjir bandang, tanggul
jebol, gunung longsor, jalan hanyut, dan rumah-rumah tersapu air. Namun,
musibah terus berulang karena kerusakan yang dilakukan oleh tangan manusia
sendiri.
Allah berfirman:
﴿ ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ
عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ﴾
“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan oleh ulah manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Dalam Islam, menjaga alam adalah amalan mulia. Rasulullah bersabda: Dunia ini hijau dan indah. Allah menjadikan kalian sebagai pemakmurnya.
Karena itu, menghadapi bencana bukan
hanya dengan sabar dan doa, tetapi juga dengan memperbaiki perilaku dan menjaga lingkungan
Tiga Hal Penting Setelah Musibah
1. Bersyukur dan bersabar.
Syukur
bagi yang selamat, sabar bagi yang ditimpa ujian.
2. Membantu sesama.
Bantuan kecil tetap besar di sisi Allah.
3. Menjaga lingkungan.
Bencana tidak akan berhenti jika kerusakan alam terus dilakukan.
Rasulullah mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي،
وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Ya Allah, beri aku pahala dalam
musibahku, dan gantilah untukku yang lebih baik.
PUISI : KUN FAYAKUN
KUN FAYAKUN
Karya: Dr. H. Muamar Al Qadri, M.Pd
Pen :
Nyanyian Sunyi di Lembah Derita
Nyanyian Sunyi di Lembah Derita Di bawah langit yang kelam membisu, Awan mendung meratap pilu. Bumi basah, air mata turun tak henti, Menya...
-
Berikut ini adalah deskriptor KKNI untuk level 6 sampai dengan 9: Level 6 Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan memanfaatkan ilmu p...
-
Jawablah soal dengan baik dan benar ! 1. Abu Nawas bertaubat kepada Allah setelah mendengar nasihat: “jika engkau tak mampu menj...
-
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ushul Fiqih adalah pengetahuan mengenai berbagai kaidah dan bahasa yang menjadi sarana untuk...