Jumat, 31 Juli 2026

PERSIAPAN MATI

 Muslimin Rahimakumullah,

Perjalanan manusia melewati beberapa tahap: masa kanak-kanak, masa muda, masa dewasa, dan masa tua. Setiap tahap mempunyai amanah. Masa muda adalah masa kekuatan dan pembentukan kebiasaan. Masa dewasa adalah masa tanggung jawab dan kematangan. Masa tua adalah masa memperbanyak bekal, menenangkan hati, serta meninggalkan teladan yang baik bagi anak cucu.

Namun, tidak seorang pun memperoleh jaminan bahwa ia akan mencapai tahap berikutnya. Ada yang wafat ketika muda, ada yang dipanggil saat berada di puncak karier, dan ada pula yang diberi umur panjang. Karena itu, yang paling penting bukanlah seberapa panjang usia kita, melainkan seberapa baik usia itu dipergunakan.

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ ٣٤

“Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya datang, mereka tidak dapat menundanya sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 34)

Ayat ini mengajarkan bahwa ajal adalah ketetapan Allah. Kematian tidak menunggu kita selesai bekerja, tidak menunggu utang lunas, tidak menunggu anak dewasa, dan tidak menunggu kita merasa siap. Karena itu, orang yang cerdas bukanlah orang yang terus menunda tobat, tetapi orang yang menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk kembali kepada Allah.

Ada tiga kesadaran yang perlu kita tanamkan.

      Pertama, usia adalah amanah. Waktu tidak boleh dihabiskan hanya untuk kesenangan, perselisihan, dan perkara yang tidak bermanfaat.

      Kedua, usia adalah modal. Dengan waktu yang sama, seseorang dapat memperoleh pahala yang besar atau justru menambah penyesalan.

      Ketiga, usia adalah saksi. Hari-hari yang kita lalui kelak akan menjadi bukti tentang apa yang kita kerjakan di hadapan Allah.

Maka, jangan menunggu tua untuk beribadah. Jangan menunggu lapang untuk bersedekah. Jangan menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu kehilangan untuk meminta maaf. Amal saleh yang paling berharga adalah amal yang dikerjakan ketika kesempatan masih terbuka.

Al-Qur’an memberikan perhatian khusus ketika manusia mencapai kematangan usia. Allah menggambarkan seseorang yang telah dewasa dan mencapai empat puluh tahun, lalu memohon agar mampu bersyukur, beramal saleh, memperbaiki keturunannya, dan bertobat kepada-Nya.

Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,

 

... رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ١٥

 “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.”

 (Al-Ahqaf/46:15)

Usia empat puluh tahun bukanlah batas untuk memulai kebaikan, tetapi sebuah peringatan tentang kematangan tanggung jawab. Pada usia berapa pun, kita harus segera memperbaiki diri. Namun semakin bertambah usia, semestinya semakin berkurang kelalaian, semakin lembut ucapan, semakin terjaga salat, semakin baik hubungan keluarga, dan semakin besar manfaat kita bagi sesama.

Empat bekal untuk mengisi sisa umur:

 

      Perbaiki hubungan dengan Allah

      Perbaiki hubungan dengan manusia: tunaikan hak, lunasi utang, hentikan permusuhan, dan berani meminta maaf.

      Perbaiki keluarga: didik anak dengan iman, berbakti kepada orang tua, dan jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya kebaikan.

      Perbanyak amal yang manfaatnya panjang: ilmu yang diajarkan, sedekah jariyah, bantuan kepada orang lemah, dan teladan yang baik.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Rasulullah SAW menjelaskan ukuran keberuntungan hidup dengan sabda yang singkat:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadis ini tidak menjadikan umur panjang sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Umur panjang menjadi nikmat apabila dipenuhi kebaikan. Sebaliknya, bertambahnya usia tanpa perbaikan amal dapat menjadi sebab bertambahnya penyesalan.

Semoga Allah menjadikan sisa umur kita sebagai umur yang diberkahi, melindungi kita dari waktu yang sia-sia, memberi kekuatan untuk bertobat sebelum ajal datang, dan menutup kehidupan kita dengan husnul khatimah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERSIAPAN MATI

  Muslimin Rahimakumullah, Perjalanan manusia melewati beberapa tahap: masa kanak-kanak, masa muda, masa dewasa, dan masa tua. Setiap taha...