Kamis, 04 Oktober 2018

2. BELAJAR DAN TEORI BELAJAR

BELAJAR DAN TEORI BELAJAR

Di Susun Oleh :
Kelompok II

Deni Azhari (4068.1.16)
Krismuniarsih (4129.1.16)
Irma Yani (4114.1.16)


A. Pengertian Belajar

Dalam kegiatan belajar dan mengajar di sekolah terjadi sebuah proses yaitu interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa jika terjadi kegiatan belajar kelompok. Dalam interaksi tersebut akan terjadi sebuah proses pembelajaran, pembelajaran secara umum didefinisikan sebagai suatu proses yang menyatukan kognitif, emosional, dan lingkungan pengaruh dan pengalaman untuk memperoleh, meningkatkan, atau membuat perubahan pengetahuan satu, keterampilan, nilai, dan pandangan dunia (Illeris, 2000; Ormorod, 1995).
 Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Belajar menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning 1977, belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah.
Menurut Hilgrad dan Bower, belajar (to learn) memiliki arti : to gain knowledge, comprehension, or mastery of trough experience or study, to fix in the mind or memory; memorize; to acquire trough experience, to become in forme of to find out. Menurut definisi tersebut, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan atau menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.
dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman sikap, tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.

B. Pengertian Teori Belajar

Teori adalah seperangkat asas yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata dinyatakan oleh Mc. Keachie dalam grendel 1991 : 5 (Hamzah Uno, 2006:4). Sedangkan Hamzah (2003:26) menyatakan bahwa teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya.
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas.
Teori belajar merupakan landasan terjadinya suatu proses belajar yang menuntun terbentuknya kondisi untuk belajar. Teori belajar dapat didefenisikan sebagai integrasi prinsip-prinsip yang menuntun di dalam merancang kondisi demi tercapainya tujuan pendidikan. Oleh karena itu dengan adanya teori belajar akan memberikan kemudahan bagi guru dalam menjalankan model-model pembelajaran yang akan dilaksanakan.

C. Macam-macam Teori Belajar

Beberapa teori belajar yang yang relevan dan dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran yang akan dikembangkan antara lain
1. Teori belajar behavioristik
Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah laku, tidak lain adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuanny untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Teori ini menekankan pada apa yang dilihat yaitu tingkah laku.

Tokoh-Tokoh Aliran Behavioristik :
a) Edward LeeThorndike
Menurutnya belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. teori ini sering disebut teori koneksionisme.
b) John Watson
Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Karena belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon, namun keduanya harus dapat diamati dan diukur.
c) Burrhus Frederic Skinner
Konsep-konsep yang dikemukanan tentang belajar lebih mengungguli konsep para tokoh sebelumnya. Respon yang diterima seseorang tidak sesederhana konsep yang dikemukakan tokoh sebelumnya, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku.

2. Teori belajar kognitif
Teori belajar kongnitif merupakan suatu teori yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses
Tokoh – tokoh dari aliran kongntif:
a) Teori gestalt
Menurut teori gestalt, manusia bukan sekedar makhluk reaksi yang berbuat atau bereaksi jika adaperangsang yang mempengaruhinya. Akan tetapi, manusia adalah individu yang merupakan bulatan fisik dan psikis.
b) Teori jean piaget
Jean piaget (1975) seorang penganut aliran kongnitif yang kuat, bahwa peroses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu : peroses asimilasi adalah peroses penyatuan informasi baru ke struktur kongnitif yang sudah ada dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kongnitif kedalam situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyelesaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomondasi.
c) Teori burner
Menurut pandangannya bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif.

3. Teori belajar humanistik
Yang mana proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia, yaitu mencapai aktualisasi diri peserta didik yang belajar secara optimal. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Selanjutnya Gagne dan Briggs mengatakan bahwa pendekatan humanistik adalah pengembangan nilai-nilai dan sikap pribadi yang dikehendaki secara sosial dan pemerolehan pengetahuan yang luas tentang sejarah, sastra, dan pengolahan strategi berpikir produktif. Pendekatan sistem bisa dapat di lakukan sehingga para peserta didik dapat memilih suatu rencana pelajaran agar mereka dapat mencurahkan waktu mereka bagi bermacam-macam tujuan belajar atau sejumlah pelajaran yang akan dipelajari atau jenis-jenis pemecahan masalah dan aktifitas-aktifitas kreatif yang mungkin dilakukan.pembatasan praktis dalam pemilihan hal-hal itu mungkin di tentukan oleh keterbatasan bahan-bahan pelajaran dan keadaan tetapi dalam pendekatan sistem itu sendiri tidak ada yang membatasi keanekaragaman pendidikan ini.Tokoh utama teori humanistik adalah C. Rogger  dan Arthur Comb.

4. Teori belajar konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep. Menurut teori ini belajar adalah menyusun pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaborasi, refleksi serta interpretasi.

5. Teori belajar stimulus-respon
Yang dikemukakan oleh Thorndike ini disebut juga koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.  Thorndike mengemukakan pula bahwa kualitas dan kuantitas hasil belajar peserta didik tergantung dari kualitas dan kuantitas Stimulus- Respon (S-R) dalam pelaksanaan kegiatan belajar peserta didik.
Menurut Brunner ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactive), pengalaman piktorial/ gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). 


DAFTAR BACAAN

Baharuddin, Teori Belajar dan Pembelajaran , Jogjakarta: Arruz Media, 2010
Elfidayati, Psikologi Pendidikan, Langkat: 2015
Indah Kosmiyah, Belajar dan Pembelajaran , Yogyakarta: Teras, 2012
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010 
Sukiman, Pengembangan Media Pembelajaran, Jogjakarta: Pedagogia, 2012


1. KONSEP DIDAKTIK (Perencanaan Pembelajaran PAI )

KONSEP DIDAKTIK


DISUSUN OLEH KELOMPOK I :  
AVIF ILHAMSYAH
FIRZA AL QADRI
RYAN ALVIN SULIDANA



Dosen Pembimbing : H. Muamar Al Qadri, M.Pd



A.    Pengertian Didaktik
Didaktik adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Yunani: Didascein yang berarti “saya mengajar” atau ilmu mengajar atau ilmu yang mempelajari dan memberi syarat-syarat umum yang diperlukan untuk memberikan pelajaran dengan baik kepada murid atau orang lain. Jadi didaktik memberikan petunjuk-petunjuk umum untuk mengajar dan berlaku untuk segala pengajaran dalam mata pelajaran apapun.
Didaktik adalah ilmu mengajar yang membuat orang menjadi belajar. Didaktik adalah ilmu tentang masalah mengajar dan belajar secara ampuh dan berdaya guna. Didaktik tidak sama dengan pendagogik. Didaktik adalah bagian kecil dari rumpun ilmu pedagogi. Mengajar hanyalah salah satu aspek dari mendidik, namun mengajar adalah unsur yang utama dalam mendidik (Ismail, 1998).
Menurut pengertian baru, didaktik diartikan sebagai ilmu yang memberi uraian tentang kegiatan proses mengajar yang menimbulkan proses belajar. Dari sudut pandang ini, didaktik mengandung dua macam kegiatan yakni kegiatan mengajar dan kegiatan belajar. Baik murid maupun guru, kedua-duanya aktif sehingga terwujud kegiatan mengajar dan kegiatan belajar bersama-sama. Agar proses belajar mengajar dimaksud membuahkan hasil yang diharapkan, baik murid maupun guru perlu memiliki sikap, kemampuan dan keterampilan yang mendukung proses belajar mengajar itu[1]
Didaktik juga dapat diartikan perbuatan-perbuatan yang harus dilakukan oleh tenaga pengajar yang menyangkut: penyajian materi pelajaran yang efektif serta mengelola proses belajar mengajar didalam kelas.
Jadi didaktik memberikan petunjuk-petunjuk umum untuk mengajar, dan berlaku untuk segala pengajaran dalam mata pelajaran apapun. ilmu ini membahas mengenai prinsip-prinsip mengajar, cara-cara meyampaikan bahan- bahan/materi pelajaran, untuk dapat dimiliki dan dikuasai oleh anak/siswa.

Dari pengertian-pengertian itulah dapat disimpulkan bahwa didaktik memiliki hubungan yang erat dengan sebagai berikut.
1)      Guru adalah sebagai sumbernya.
2)      Murid adalah sebagai penerimanya.
3)      Tujuan apa yang akan dicapai dalam proses pembelajaran tersebut.
4)      Dasar landasan dari pembelajaran
5)      Sarana atau alat berupa meja, kursi, dll
6)      Bahan atau materi apa yang akan disampaikan kepada anak didik
7)      Metode apa untuk menyampaikan materi
8)      Evaluasi untuk mengukur keberhasilan siswa
Diantara hal-hal tersebut sedikitnya ada 3 faktor yang menjadi fokus pembahasan dalam didaktik. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh D.H Quenjoe dan A. Ghazali bahwa yang menjadi peranan utama pembahasan didaktik adalah :
a)            Tujuan pengajaran
Tujuan pendidikan dan pengajaran itu sebenarnya berjenjang/bertingkat menurut rumusan secara formal ada beberapa sedang tujuan pendidikan.
Yakni tujuan pendidikan nasional, tujuan instruksional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional: 1. Tujuan pendidikan nasional adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat nasional.  2.  Tujuan instruksional adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat lembaga pendidikan. 3.  Tujuan kurikuler adalah tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat mata pelajaran atau bidang studi. 4.   Tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran, yakni tujuan pendidikan yang ingin dicapai pada tingkat pengajaran.
Melihat 4 macam jenjang tujuan pendidikan seperti di atas, maka dapat dikatakan bahwa tujuan instruksional atau tujuan pengajaran akan senantiasa merupakan tujuan paling awal untuk mencapai tujuan berikutnya.

b)            Bahan atau materi pengajaran
Bahan ajar adalah sebuah persoalan pokok yang tidak bisa dikesimpangkan dalam satu kesatuan pembahansan yang utuh tentang cara pembuatan bahan ajar.
c)            Metode pengajar atau teknik yang dipakai untuk menyampaikan materi
Adapun macam-macam metode mengajar yaitu metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode pemberian tugas belajar (resitasi), metode demontrasi dan eksperimen, metode sosiodrama dan bermain peran, metode karyawisata, metode test, metode drill, metode infiltrasi, metode gotong royong, metode survey, metode wawancara, metode problem solving, metode proyek, metode dikte.

Selain beberapa faktor tersebut, terdapat faktor lainnya yang cukup penting Dalam mengajar ada 3 faktor yang harus diperhatikan: 1. Pengajar (pendidik)- yang mengajar yang memberikan bahan, yang memotivasi. 2. Pelajar (peserta didik)- yang menerima, yang belajar, yang menyerap dan menggunakannya. 3.Bahan pelajarannya.[2]

Kita akan membahas sedikit mengenai faktor faktor yang harus diperhatikan dalam menerapkan konsep didaktik
a.      Pengajar(Pendidik)
Dalam pengertian yang sederhana, Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik, sedangkan dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu, tidak mesti di lembaga pendidikan formal (Sekolah atau institusi pendidikan dengan kurikulum yang jelas dan terakreditasi), tetapi bisa juga di lembaga pendidikan non formal (Lembaga Pendidikan Ketrampilan, Kursus, di masjid, di surau/musala, di gereja, di rumah, dan sebagainya).[3]
Undang-undang No. 20 Tahun 2003, Pasal 39 (2) menjelaskan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan. Sementara itu sebutan pendidik dengan kualifikasi dosen merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.[4]
Tenaga pendidik meliputi guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. (UU No. 20 tahun 2003 pasal 1).[5]
Pengajar hendaknya memiliki kepribadian yang luhur dan mulia seperti beberapa kepribadian berikut ini:
        • Memiliki rasa kasih
        • Keikhlasan/tulus
        • Tenang(calm)
        • Rasa hormat(respect)
        •  Bijaksana/keadilan
        • Bersahaja/rendah diri
        • Berwibawa
        • Toladan
        • Terpercaya
        • Kesabaran
        • Cerdas
        • Trampil
        • Beretika/santun
        • Estetis
        • Berpenampilanbaik
        • Religius
        • Tanggung jawab(responsibility)
        • Disiplin
        • Humoris
        • Bersahabatan (friendship)
        • Menyenangkan(favorable)


     Selain itu sebagai pengajar juga harus menguasai kompetensi guru seperti (1) Guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang materi yang diajarkan (2) Memiliki wawasan pengetahuan    tentang materi berkaitan dengan disiplin ilmu lainnya. (3) Menguasai ilmu didaktik dan metodik. (4)  Mampu menysusn program pembelajaran yang baik. (5) Mampu melaksanakan program sesuai rencana secara tepat. (6) Mampu mengenal karakteristik perbedaan siswa.(7) Mampu memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. (8) Mampu menciptakan    media  atau     alat-alat bantu pembelajaran. (9)  Kreatif dan inovatif dalam mengkreasi lingkungan belajar, iklim belajar, membangkitkan motivasi. (creator dan innovator). (10)  Mampu mengoperasikan media modern.(11) Mampu   memfasilitasi   setiap   kesulitan siswa. (fasilitator). (12) Mampu   membimbing   siswa   yang    memiliki kekurangan. (13) Ketepatan dalam menggunakan alat bantu secara efektif. (14) Mampu   menampilkan   contoh-contoh gerak. (demonstrator). (15) Mampu   melakukan       analisis gerak,  mengoreksi, evaluasi, dan solusi yang tepat. (analisator/evaluator). (16)   Memberikan tugas-tugas gerak, dan cue/isyarat yang benar. (17) Mampu menjadi motivator

Prinsip Umum Mengajar
1.   Mengajar harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimilikisiswa. Apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari bahan yang akan diajarkan. Oleh karena itu tingkat kemampuan siswa sebelum proses belajar perlu diketahui guru. Ini disebut “entry behavior”. Untuk diketahuinya, guru sebelum mengajar harus mengadakan pra test. Dalam renang sangat perlu guru mengadakan pra test kemampuan dasar renang dan test tingkat kecemasan terhadap air.
2.       Pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan harus bersifat praktis.Materi pelajaran yang bersifat praktis yaitu yang berhubungan dengan situasi kehidupan sehari-hari, dapat menarik minat siswa dan akan lebih memotivasi siswa untuk aktif belajar.
3.   Mengajar harus memperhatikan tingkat perbedaan individualsiswa. Setiap individu memiliki potensi kemampuan dan kesanggupan yang berbeda. Karena faktor bakat, tingkat intelegensi, masalag faktor mental, dan pengalaman yang dimiliki berbeda. Ada siswa yang diajarkan baru satu atau dua kali pertemuan sudah bisa berenang, tapi ada yang lambat. Guru harus melihat tingkat perbedaan ini.
4.   Kesiapan (readiness) dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalambelajar. kesiapan adalah kapasiti (kemampuan potensial) baik bersifat fisik, maupun mental untuk melakukan sesuatu. Bila siswa siap mengikuti proses belajar, maka hasil belajar akan diperoleh dengan baik.
5.       Tujuan pengajaran harus diketahuisiswa.
Tujuan pengajaran adalah rumusan tentang perubahan perilaku yang akan diperoleh siswa setelah proses belajar. Bila tujuan diketahui, siswa memiliki motivasi untuk belajar.  Tujuan harus dirumuskan secarakhusus.
6.       Mengajar harus mengikuti prinsip psikologisbelajar. Prinsip ini diantaranya, bahwa belajar harus bertahap (sistematis) dan meningkat. Karena itu bahan harus disajikan secara gradualyaitu:
a.        Dari       yang        sederhana             kepada          yang        kompleks (rumit).
b.        Dari yang konkrit kepada yangabstrak.
c.        Dari umum ke yangkhusus.
d.       Dari yang sudah diketahui (fakta) ke yang tidak diketahui (abstrak).
e.        Dari induksi ke deduksi atau sebaliknya.
f.         Sering menggunakan reinforcement (penguatan).

Seorang Guru harus berpacu dalam pembelajaran, dengan memberikan kemudahan belajar bagi seluruh peserta didik, agar dapat mengembangkan potensinya secara optimal.[6] Dalam hal ini, guru harus kreatif, professional dan menyenangkan, dengan memposisikan diri sebagai :
1.  Orang tua, yang penuh kasih sayang pada peserta didiknya.
2.  Teman, tempat mengadu dan mengutarakan perasaan bagi para peserta didik.
3.  Fasilitator, yang selalu siap memberikan kemudahan, dan melayani peserta didik sesuai minat, kemampuan dan bakatnya.
4. Memberikan sumbangan pemikiran kepada orang tua untuk dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi anak dan memberikan saran pemecahannya.
5.   Memupuk rasa percaya diri, berani dan bertanggung jawab.
6.   Membiasakan peserta didik untuk saling berhubungan dengan orang lain secara wajar.
7.  Mengembangkan proses sosialisasi yang wajar antar peserta didik, orang lain, dan lingkungannya.
8.    Mengembangkan kreativitas.
9.    Menjadi pembantu ketika diperlukan
Pengajar atau Pendidik sangat berperan penting terhadap pembelajaran dikarenakan guru merupakan faktor dalam didaktik.WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga.[7]

b.      Pelajar (Peserta Didik)
Dalam Undang-undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Pasal 1 ayat 4) peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Dalam kegiatan pendidikan peserta didik mempunyai posisi sentral, sebab semua unsur yang di adakan untuk berlangsungnya proses pendidikan pada dasarnya di arahkan pada sasaran pokok, yakni berkembangnya potensi peserta didik secara optimal menuju terbentuknya manusia berkepribadian utama.
Mengingat pentingnya posisi peserta didik dalam proses pendidikan, maka pihak-pihak terkait penyelenggaraan pendidikan, khususnya pendidik, sangat penting memahami hakikat peserta didik. Sebab dengan mempelajari hakikat peserta didik akan memperoleh beberapa keuntungan di antaranya adalah :
1)      Akan mempunyai ekspektasi yang nyata tentang peserta didik.
2)      Akan membantu pendidik untuk merespon sebagaimana mestinya pada perilaku tertentu dari peserta didik.
3)      Akan membantu mengenali berbagai penyimpangan dari perkembangan yang normal.[8]

B.     Manfaat Didaktik

        Masih ada sebagian orang yang berpendapat, bahwa ilmu didaktik hanya bermanfaat bagi guru disekolah saja. Pandangan ini tidak kita tolak kebenaran seluruhnya. Oleh karena sejak semula kegunaan didaktik terutama dirasakan oleh para guru. Akan tetapi di samping itu, kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini digunakan dimana-mana, bukan oleh guru di sekolah saja, melainkan oleh masyarakat, lembaga dan badan-badan, perusahaan, lembaga pemerintahan, lembaga pembangunan, lembaga pedesaan, kemiliteran, dan lain-lain.
Guru yang baik harus menguasai ilmu yang menjadi bahan pelajaran dan ilmu didaktik sebagai ilmu tentang cara penyampaian.Di dalam masyarakat, ilmu didaktik sangat banyak digunakan orang, kendatipun mungkin mereka tidak menyadari bahwa yang digunakannya itu adalah didaktik, misalnya seorang lurah memberikan penjelasan kepada masyarakat desa tentang Keluarga Berencana, PKK, dan berjangkitnya penyakit di daerahnya. Ia harus memberikan ceramahnya sedemikian rupa agar masyarakat pedesaan itu dengan mudah menangkap dan memahami isi ceramah itu. Usaha demikian sesungguhnya sudah termasuk usaha yang bersifat didaktis.
            Sebab didaktik sangat berguna yaitu:
  1. Didaktik memberikan petunjuk tentang membuat perencanaan.
  2. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara membuat tujuan-tujuan yang diinginkan.
  3. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara menyampaikan pengalaman dan pengetahuan dengan cara yang efektif.
  4. Didaktik memberikan petunjuk tentang cara-cara mempelajari sesuatu dengan berhasil
  5. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara mengadakan penilaian secara efektif.
  6. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara membuat suatu program yang sistematis
  7. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara mengadakan pengumpulan informasi yang diperlukan.
  8. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara menyelenggarakan peragaan atau cara menggunakan audio visual aids.
  9. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara masyarakat memanfaatkan lingkungan sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara menyelenggarakan pertunjukan seni budaya.
  10. Didaktik memberikan petunjuk tentang bagaimana cara berkomunikasi dan berinteraksi dalam masyarakat.
  11. Didaktik memberikan petunjuk tentang apa yang perlu dilakukan oleh masyarakat dan orang tua guna membantu berhasilnya pekerjaan sekolah (Hamalik, 2001).


         C.    Macam- Macam Didaktik 
Didaktik atau ilmu mengajar tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian, ialah:
Ilmu yang memberi petunjuk-petunjuk umum yang berlaku untuk semua pengajaran dan semua mata pelajaran. Ini disebut dengan didaktik umum, seperti: dasar-dasar didaktik, persekolahan, guru, murid, hubungan antar murid, motivasi, peragaan, dsb.
Dalam didaktika umum dipelajari aturan umum bagi seorang guru untuk dapat mengajar dengan sebaik mungkin dalam suatu bahasan tertentu. Beberapa hal yang secara umum perlu diketahui diantaranya tentang motif anak dalam belajar, evaluasi dan penilaian, penggunaan media pembelajaran, desain pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Dalam hal ini, pendidikan ditunjang oleh psikologi dan pedagogi. Selain itu dalam didaktik juga dibahas mengenai berbagai peran guru, antara lain sebagai perancang, pelaku, peneliti, sekaligus sebagai pelajar dalam suatu proses belajar mengajar.
Ilmu yang menguraikan tentang cara-cara mengajar untuk mata pelajaran tertentu atau bagian yang disebut dengan didaktik khusus/ metodik.Didaktik khusus ini juga mempelajari tentang bagaimana mengajarkan suatu materi khusus dengan sebaik-baiknya. Bimbingan tentang waktu dan tempat yang tepat serta persiapan dan pengajaran yang cocok oleh teman sejawat dalam suatu pelatihan merupakan metodologi pengajaran yang digunakan.[9]
 Metodik dibagi menjadi dua yaitu metodik Umum dan Metodik Khusus :

  • Metodik Umum menyelidiki hal-hal yang umum dalam mengajar tiap-tiap mata pelajaran terdiri dari:

1.      Rencana Pelajaran,
Proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yaitu perubahan tingkah laku serta rangkaian kegiatan yang harus dilakukan sebagai upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada. Hasil dari proses pengambilan keputusan tersebut adalah tersusunnya dokumen yang dapat dijadikan acuan dan pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
2.      Jalan Pelajaran,
Proses berjalannya pelajaran dapat telaksana dengan baik jika pendidik telah mempersiapkan segalanya seperti mempersiapkan strategi belajar yang dapat diterapkan ketika proses belajar mengajar berjalan pa amata pelajaran yang terkait.
3.      Sikap Dan Gaya.
Sikap dalam mengajar itu penting karena setiap pendidik merupakan contoh daripada peserta didiknya, sehingga perlu penerapan sikap yang tepat dilakukan
4.      Bentuk Pelajaran Dan Metode Mengajar.
Metode mengajar sangat penting dalam menjalankan pembelajaran karena Metode pembelajaran adalah cara-cara atau teknik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakan oleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atau secara kelompok. Agar tercapainya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan.
5.      Alat-Alat Pelajaran
Alat alat pelajaran tersebut berguna sebagai penunjang  proses pembelajaran , alat alat pelajaran juga dapat disamakan dengan media pembelajaran. Adapun contoh alat atau media yang dapat menunjang proses pembelajaran yaitu seperti buku, papan tulis,dll.'

  • Metodik khusus menguraikan tentang cara mengajar untuk setiap mata pelajaran.
Setiap mata pelajaran mempunyai nilai dan tujuan.
1.      Nilai Formal
Pembentukan daya daya jiwa, pembentukan tabiat, membentuk watak, membentuk kemauan dan membentuk cita cita.
2.      Nilai Praktis
Fungsional, dapat dilaksanakan sehari –hari.
3.      Nilai Material
Penambahan pengetahuan untuk tingkat atau jenjang pendidikan berikutnya.'

D.           Hubungan Metodik dengan Didaktik 
Untuk mengetahui hubungan antara didaktik dengan metodik perlu dibahas lebih dahulu lingkaran permasalahan didaktik dan metodik itu, setelah itu barulah kita mengetahui garis temu antara kedua lingkaran tersebut.
Didaktik berarti ilmu mengajar yang didasarkan atas prinsip kegiatan penyampaian bahan pelajaran sehingga bahan pelajaran itu dimiliki oleh siswa. Kegiatan yang dimaksud ialah kegiatan langsung yang timbul di dalam pergaulan siswa dengan gurunya. Dengan kata lain kegiatan apa yang dimainkan oleh guru dalam menyajikan bahan pelajaran itu. Apakah ia dapat menarik minat, motivasi atau mengaktifkan siswa atau tidak. Oleh karena kegiatan itu bertujuan hendak mempengaruhi siswa atau anak didik, maka karakteristik-karakteristik pribadi anak didiklah yang menjadi sasaran didaktik.
Menurut sejarahnya, Johann Amos Comenius (1592-1670) adalah tokoh pertama yang memformulasikan ide didaktik itu. Ia dikenal dengan bukunya yang bernama “Didactica Magna” yang dalam penerbitan pertamanya (1632) ditulis dalam bahasa Ceko.
Dalam pasal 2 bab 17 dari buku Didactica Magna itu disebutkannya bahwa pengajaran akan menjadi mudah, jika diikuti langkah-langkah[10] :
     a)    Jika pengajaran dimulai awal benar, sebelum jiwa rusak.b)   Jika jiwa telah sedia untuk menerimanya.c)    Jika dimulai dari yang umum kepada yang khusus.d)   Jika dimulai dari yang mudah kepada yang sukar.e)    Jika siswa tidak dibebani dengan mata pelajaran yang banyak.f)    Jika pelajaran berangsur-angsur maju dengan perlahan -lahan dalam setiap hal.g)   Jika kecerdasan tidak dipaksa untuk suatu yang belum mengarah kepada                           kecenderungan; dan harus sesuai dengan umur dan metode yang benar.h)   Jika segala sesuatu diajarkan dengan media pengertian.i)     Jika penggunaan segala sesuatu pengajaran berkesinambungan.j)     Jika segala sesuatu daiajarkan dengan satu dan metode yang sama.

Jika diformulasikan, maka didaktik itu bergerak dalam lingkaran penghidangan bahan pelajaran sewaktu pelajaran sedang berlangsung. Sedangkan metodik bergerak di dalam lingkaran penyediaan jalan atau siasat yang akan ditempuh.
Jadi, titik temu yang menghubungkan antara didaktik dengan metodik terletak pada persiapan mengajar. Pengajaran diharapkan akan berjalan dengan baik dimulai dari pemilihan metode mengajar yang serasi, dan kemudian atas metode yang dipilih kemudian dipersiapkan kegaiatan penyajian atau penghidangan mata pelajaran/bahan pelajaran.[11]

DAFTAR PUSTAKA


Buchori, M. Psikologi Pendidikan. Bandung: Jemars.1982
Mahmud.Antropologi pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia2012.
Kosim, Mohammad. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya: Pena Salsabila, 2013.
Danim, Sudarwan. Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Bandung: Pustaka Setia, 2000
Arcaro, Jerome S. Pendidikan Berbasis Mutu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005
Prastowo, Andi. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta:Diva Press, 2014
http://santridaruz.blogspot.com/2008/05/metodik-didaktik.htmlDiakses Pada Tanggal 30 September 2018
https://id.wikipedia.org/wiki/Metode_didaktik Diakses Pada Tanggal 30 September 2018
Yusuf, Tayar.  Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995
Daradjat, Zakiah, dkk. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Buni Aksara, 1995
Roestiyah.Didaktik Metodik. Jakarta: PT. Bina Aksara, 1986




[1]http://santridaruz.blogspot.com/2008/05/metodik-didaktik.html
[2] Roestiyah, Didaktik Metodik (Jakarta: PT. Bina Aksara, 1986), h. 1.
[3]M. Buchori. Psikologi Pendidikan. (Bandung: Jemars,1982), h. 90.
[4]Mahmud. Antropologi pendidikan. (Bandung: CV Pustaka Setia,2012), h. 154.
[5]Ibid,h. 155
[6]JeromeSArcaro. Pendidikan Berbasis Mutu. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 48.
[7]SudarwanDanim.Inovasi Pendidikan dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. (Bandung : Pustaka Setia, 2000), h. 86
[8]Mohammad Kosim.Pengantar Ilmu Pendidikan. (Surabaya: Pena Salsabila, 2013), h. 75.
[9]https://id.wikipedia.org/wiki/Metode_didaktik
[10]Zakiah Daradjat, dkk.Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. (Jakarta: Buni Aksara, 1995), h. 3-4
[11]Tayar Yusuf. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1995), h.1

Nyanyian Sunyi di Lembah Derita

  Nyanyian Sunyi di Lembah Derita Di bawah langit yang kelam membisu, Awan mendung meratap pilu. Bumi basah, air mata turun tak henti, Menya...