Kamis, 04 Oktober 2018

1. PENGERTIAN TAUHID DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN TAUHID DAN PEMBAGIANNYA
DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD PUTRA ADINATA
RAHMA FADILLAH BR SIMATUPANG
NOVIA SRI RAHAYU

Tauhid secara bahasa arab merupakan bentuk masdar dari fi’il wahhada-yuwahhidu (dengan huruf ha di tasydid), yang artinya menjadikan sesuatu satu saja. Syaikh muhammad bin shalih al utsaimin berkata: “makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian. Yaitu menafikan segala sesuatu selain sesuatu yang kita jadikan satu saja, kemudian baru menetapkannya.
Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya.
قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ
Katakanlah :dialah allah yang maha esa (Q.S AL-ikhlas :1).
Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia,[1] bisa jadi berupa malaikat, para nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.
Hukum mempelajarin ilmu tauhid ini wajib bagi umat muslim dan muslimat, pertama kali yang harus kita belajar dari kecil bahkan pun bisa di bilang dari bayi harus belajar atau di ajarin  ilmu tauhid, supaya kita mengenal siapa yang menciptakan kita, dan untuk apa kia di ciptakan.                    
Dari hasil pengkajian terhadap dalil-dalil tauhid yang dilakukan para ulama sejak dahulu hingga sekarang, mereka menyimpulkan bahwa ada tauhid terbagi menjadi tiga:
1. Tauhid rububiyah adalah mentauhidkan Allah dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, serta menyatakan dengan tegas bahwa Allah ta’ala adalah rabb, raja, dan pencipta semua makhluk, dan Allahlah yang mengatur dan mengubah keadaan mereka. Meyakini rububiyah yaitu meyakini kekuasaan Allah dalam mencipta dan mengatur alam semesta, misalnya meyakini bumi dan langit serta isinya diciptakan oleh Allah, Allahlah yang memberikan rezeky, Allah yang mendatangkan badai dan hujan, Allah menggerakan bintang-bintang, dll. Di nyatakan dalam Al-qur’an:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ
segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang” (Q.S. Al An’am: 1)
Dan perhatikanlah baik-baik, tauhid rububiyyah ini diyakini semua orang baik mukmin, maupun kafir, sejak dahulu hingga sekarang. Bahkan mereka menyembah dan beribadah kepada Allah. Hal ini dikhabarkan dalam Al-Qur’an:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’siapa yang telah menciptakan mereka? niscaya mereka akan menjawab Allah ”. (Q.S. Az-zukhruf: 87)

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
sungguh jika kamu bertanya kepada mereka (orang-orang kafir jahiliyah), ’siapa yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjalankan matahari juga bulan?’, niscaya mereka akan menjawab ‘Allah’ ”. (Q.S. Al-ankabut 61)
Oleh karena itu kita dapati ayahanda dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bernama abdullah, yang artinya hamba Allah. Padahal ketika abdullah diberi nama demikian, rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentunya belum lahir.
Adapun yang tidak mengimani rububiyah Allah adalah kaum komunis atheis. Syaikh muhammad bin jamil zainu berkata: “orang-orang komunis tidak mengakui adanya tuhan. Dengan keyakinan mereka yang demikian, berarti mereka lebih kufur daripada orang-orang kafir jahiliyah.[2]
Pertanyaan, jika orang kafir jahiliyyah sudah menyembah dan beribadah kepada Allah sejak dahulu, lalu apa yang diperjuangkan oleh rasulullah dan para sahabat? Mengapa mereka berlelah-lelah penuh penderitaan dan mendapat banyak perlawanan dari kaum kafirin? Jawabannya, meski orang kafir jahilyyah beribadah kepada Allah mereka tidak bertauhid uluhiyyah kepada Allah, dan inilah yang diperjuangkan oleh rasulullah dan para sahabat.

2. Tauhid Uluhiyyah, adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan baik yang zhahir maupun batin. Dalilnya:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
hanya engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada engkaulah kami meminta pertolongan” (Q.S.Al-Fatihah: 5)
Sedangkan makna ibadah adalah semua hal yang dicintai oleh Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan. Apa maksud ‘yang dicintai Allah’? Yaitu segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah dan rasul-nya, segala sesuatu yang dijanjikan balasan kebaikan bila melakukannya. Seperti shalat, puasa, bershodaqoh, menyembelih. Termasuk ibadah juga berdoa, cinta, bertawakkal, istighotsah dan isti’anah. Maka seorang yang bertauhid uluhiyah hanya meyerahkan semua ibadah ini kepada Allah semata, dan tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliyyah selain beribadah kepada Allah mereka juga memohon, berdoa, beristighotsah kepada selain Allah. Dan inilah yang diperangi rasulullah, ini juga inti dari ajaran para nabi dan rasul seluruhnya, mendakwahkan tauhid uluhiyyah. Allah ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
sungguh telah kami utus rasul untuk setiap umat dengan tujuan untuk mengatakan: ‘sembahlah Allah saja dan jauhilah thagut‘” (Q.S. An-Nahl: 36)
Syaikh dr. Shalih al fauzan berkata: “dari tiga bagian tauhid ini yang paling ditekankan adalah tauhid uluhiyah. Karena ini adalah misi dakwah para rasul, dan alasan diturunkannya kitab-kitab suci, dan alasan ditegakkannya jihad di jalan Allah. Semua itu adalah agar hanya Allah saja yang disembah, dan agar penghambaan kepada selainnya ditinggalkan.”
Perhatikanlah, sungguh aneh jika ada sekelompok ummat islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat, berjihad dan memerangi orang kafir, namun mereka tidak memiliki perhatian serius terhadap tauhid uluhiyyah. Padahal tujuan ditegakkan syariat, jihad adalah untuk ditegakkan tauhid uluhiyyah. Mereka memerangi orang kafir karena orang kafir tersebut tidak bertauhid uluhiyyah, sedangkan mereka sendiri tidak perhatian terhadap tauhid uluhiyyah?

3. Tauhid Al Asma’ Was Sifat  adalah mentauhidkan Allah ta’ala dalam penetapan nama dan sifat Allah, yaitu sesuai dengan yang ia tetapkan bagi diri-nya dalam al qur’an dan hadits rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Cara bertauhid asma wa sifat Allah ialah dengan menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi dirinya dan menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari dirinya, dengan tanpa tahrif, tanpa ta’thil dan tanpatakyif . Allah ta’ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

Hanya milik Allah nama-nama yang husna, maka memohonlah kepada-nya dengan menyebut nama-nama-nya”.(Q.S. Al-A’raf: 180)
·         Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang nama atau sifat Allah dari makna zhahir-nya menjadi makna lain yang batil. Sebagai misalnya kata ‘istiwa’ yang artinya ‘bersemayam’ dipalingkan menjadi ‘menguasai’.
·         Ta’thil adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat-sifat Allah. Sebagaimana sebagian orang yang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan mereka berkata Allah berada di mana-mana.[3]
·         Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah. Padahal Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluknya, sehingga tidak ada makhluk yang mampu menggambarkan hakikat wujudnya. Misalnya sebagian orang berusaha menggambarkan bentuk tangan Allah,bentuk wajah Allah, dan lain-lain.
Adapun penyimpangan lain dalam tauhid asma wa sifat Allah adalah tasybih dan tafwidh.
·         Tasybih Adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat makhluk-nya. Padahal Allah berfirman yang artinya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
tidak ada sesuatupun yang menyerupai Allah. Sesungguhnya dia maha mendengar lagi maha melihat”. (Q.S. Asyura: 11)
Kemudian tafwidh, yaitu tidak menolak nama atau sifat Allah namun enggan menetapkan maknanya. Misalnya sebagian orang yang berkata ‘Allah ta’ala memang ber-istiwa di atas ‘arsy namun kita tidak tahu maknanya. Makna istiwa kita serahkan kepada Allah’. Pemahaman ini tidak benar karena Allah ta’ala telah mengabarkan sifat-sifatnya dalam qur’an dan sunnah agar hamba-hambanya mengetahui. Dan Allah telah mengabarkannya dengan bahasa arab yang jelas dipahami. Maka jika kita berpemahaman tafwidh maka sama dengan menganggap perbuatan Allah mengabarkan sifat-sifatnya dalam al qur’an adalah sia-sia karena tidak dapat dipahami oleh hamba-nya.

Allah berfirman dalam Al-qur’an Al-An’am: 82 ;
الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
“orang orang yang beriman dan tidak menodai keimanan mereka dengan kedzoliman ( kemusyrikan ), mereka itulah orang- orang yang mendapat ketentraman dan mereka itulah orang orang yang mendapat jalan hidayah”.
Allah telah menjelaskan dalam al-qur’an bahwa orang-orang yang tidak berbuat maksiat kepada-nya maka mereka akan mendapat balasan yang baik dari tuhannya. Mereka itulah orang-orang yang mengerjakan kebaikan didunia karena Allah dan hanya mengharapkan ridha-nya. Dan mereka di akhirat mendapat kebahagiaan sebagaimana yang telah Allah janjikan bagi orang-orang yang tidak menyekutukan-nya dengan sesuatu apapun. Sebagaimana dalam hadist berikut ;
Ubadah bin shomit  menuturkan :  Rasulullah saw bersabda :“Barang siapa yang bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak (benar) selain Allah saja, tiada sekutu baginya, dan muhammad adalah hamba dan rasulnya, dan bahwa isa adalah hamba dan rasulnya, dan kalimatnya yang disampaikan kepada maryam, serta ruh dari padanya, dan surga itu benar adanya, neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkanya kedalam surga, betapapun amal yang telah diperbuatnya”. ( H.R. Bukhori & muslim )
Adapun keistimewaan yang lain adalah seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Termidzi (yang menurut penilaianya hadits itu hasan ) dari Anas bin malik, ia berkata  aku mendengar rasulullah saw bersabda:
" قال الله تعالى : يا ابن آدم، لو أتيتني بقراب الأرض خطايا، ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا، لأتيتك بقرابها مغفرة "
 “Allah SWT berfirman : “Hai Anak adam, jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa sejagat raya, dan engkau ketika mati dalam keadaan tidak menyekutukanku dengan sesuatupun, pasti aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sejagat raya pula”.”
Dan tentunya masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan dalam aqidah tauhid kepada Allah yang sangat besar pahala dan ampunan bagi siapa saja yang tidak menyekutukan Allah didunia ini. Barangsiapa yang ingkar dan menyekutukan Allah maka adzablah yang Allah berikan dikarenakan perbuatan yang jahil mereka padahal telah datang kepadanya seorang pemberi peringatan yang benar dari Tuhan-Nya.[4]
Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan bagi Allah. Syirik ini terbagi menjadi dua: (1) Syirik Akbar; yaitu segala sesuatu yang disebut sebagai kesyirikan oleh pembuat syari’at dan menyebabkan pelakunya keluar dari agama. (2) Syirik Asghar; yaitu segala perbuatan atau ucapan yang disebut sebagai syirik atau kekafiran namun berdasarkan dalil-dalil diketahui bahwa hal itu tidak sampai mengeluarkan dari agama.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?”. Maka beliau menjawab, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” Abdullah berkata, “Kukatakan kepadanya; Sesungguhnya itu benar-benar dosa yang sangat besar.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu.” Abdullah berkata, “Aku katakan; Kemudian dosa apa sesudah itu?”. Maka beliau menjawab, “Lalu, kamu berzina dengan istri tetanggamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah:
Ø  Seorang lelaki yang berjuang mencari mati syahid. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.
Ø  Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.
Ø   Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim)

Syirik sangatlah berbahaya bagi umat manusia karena dapat merusak fitrah awal manusia (tauhid). Syirik juga termasuk musuh besar bagi tauhid dan keikhlasan serta salah satu perbuatan yang tergolong sebagai kedzoliman yang sangat besar.
Musnahkanlah Syirik dan beralih kepada Tauhidullah !!.

  
DAFTAR PUSTAKA

Al-Mundziri, Imam. Ringkasan Shahih Muslim. Bandung: Jabal, 2012.
Hasmi. Bunga Rampai Aqidah Islam. Bogor: Marwah Indo Media, 2012.
Al-Fauzan, Shalih. At-Ta’liqat al-mukhtasharah ala matni al-Aqidah ath-Thahawiyah.Jakarta: Pustaka Sahifa, 2007.
Al-fauzan, Shalih, dan Tim Ahli Tauhid. Aqidatut Tauhid. Jakarta Timur: Ummul Qura, 2012.




[1]Imam Al-Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim. (Bandung: Jabal, 2012), h.76.
[2] Hasmi, Bunga Rampai Aqidah Islam.( Bogor: Marwah Indo Media, 2012), h.57.
[3] Shalih Al-Fauzan, At-Ta’liqat al-mukhtasharah ala matni al-Aqidah ath-Thahawiyah.(Jakarta: Pustaka Sahifa, 2007), h.98.
[4] Shalih Al-fauzan, dan Tim Ahli Tauhid. Aqidatut Tauhid. (Jakarta Timur: Ummul Qura, 2012), h.102.


1. KONSEP DASAR PENDIDIKAN AKHLAK

KONSEP DASAR PENDIDIKAN AKHLAK

DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD PUTRA ADINATA
IRMA MELATI
NOVIA SRI RAHAYU


A. Pengertian Pendidikan Akhlak dan Pendidikan Islam
Pendidikan adalah bimbingan dari pendidik terhadap yang dididik secara universal demi terciptanya insan yang bermanfaat. Dengan adanya pendidikan maka diharapkan manusia bisa berguna bagi kemaslahatan alam.
Akhlak  adalah sifat dan jiwa yang melekat dalam diri seseorang menjadi pribadi yang utuh dan menyatu dalam diri orang tersebut sehingga akhirnya tercermin melalui tingkah laku  dalam kehidupan sehari-hari bahkan menjadi adat kebiasaan.
Setelah dijelaskan secara terpisah mengenai pengertian pendidikan dan pengertian akhlak, maka dapat disimpulkanbahwa pendidikan akhlak adalah perpaduan antara pengertian Pendidikan dan Akhlak. Jadi yang dimaksud dengan Pendidikan Akhlak adalah bimbingan, asuhan dan pertolongan dari orang dewasa untuk membawa anak didik ke tingkat kedewasaan yang mampu membiasakan diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan menghindari sifat-sifat yang tercela. Atau dengan kata lain pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa anak-anak sampai ia menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan kehidupan.[1] Ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu kuat, ingat bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, maka ia akan memiliki potensi dan respon dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan. Di samping itu terbiasa melakukan akhlak mulia.
Menurut Guru besar Pendidikan Islam IAIN Sunan Gunung Jati Bandung menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap seseorang agar berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.


B. Dasar-Dasar dan Tujuan Pendidikan Akhlak dalam Pendidikan Islam
Dasar- Dasar Pendidikan Akhlak Mulia
Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan akhlak. Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan akhlak dalam agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri sebagai dasar utama dalam Agama Islam telah memberikan petunjuk pada jalan kebenaran, mengarahkan kepada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di antara ayat yang menyebutkan pentingnya akhlak adalah dalam surat Ali Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.
Dalam ayat tersebut Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk dapat menasehati, mengajar, membimbing dan mendidik sesamanya dalam hal melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Dengan demikian Allah telah memberikan dasar yang jelas mengenai pendidikan akhlak yang mana merupakan suatu usaha untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar berbudi pekerti luhur dan berakhlaqul karimah.[2]
Selain menyebutkan pentingnya pendidikan akhlak, Al-Qur’an pun menunjukkan siapa figur yang harus dicontoh dan dijadikan sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.Al-Ahzab: 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan figur utama sebagai manusia dan utusan Allah yang patut dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Allah pun dalam ayat lain memuji kepribadian Rasulullah SAW sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)
Dasar pentingnya akhlak dalam As-Sunnah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwasanya Raasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Dari ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Saw. di atas menunjukkan bahwa dasar dan pijakan pendidikan akhlak adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dari dasar dan pedoman itulah dapat diketahui kriteria suatu perbuatan itu baik ataupun buruk.
2.       Tujuan Pendidikan Akhlak Mulia
Tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral bukan hanya sekedar memenuhi otak murid-murid dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya ialah mendidik akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat.
Adapun tujuan pendidikan akhlak secara umum yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
Tujuan pendidikan akhlak adalah mencapai kebahagiaan kebahagiaan hidup umat manusia dalam kehidupannya, baik di dunia maupun akhirat. Jika seseorang dapat menjaga kualitas mu’amalah dan mu’amalah ma’annas, insya Allah akan memperoleh rida-Nya. Orang mendapat rida Allah niscaya akan memperoleh jaminan kehidupan baik di duniawai maupun ukhrawi.
            Tujuan pendidikan akhlak menurut Omar Muhammad Al Thoumy Al- Syaibani “Tujuan tertinggi agama dan akhlak ialah menciptakan kebahagiaan dua kampung (dunia dan akherat), kesempurnaan jiwa bagi individu, dan menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan dan keteguhan bagi masyarakat”. Pada dasarnya apa yang akan dicapai dalam pendidikan akhlak tidak berbeda dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
            Tujuan pendidikan akhlak menurut M. Athiyah al Abrasyi “Tujuan pendidikan budi pekerti adalah membentuk manusia yang berakhlak (baik laki-laki maupun wanita) agar mempunyai kehendak yang kuat, perbuatan-perbuatan yang baik, meresapkan fadhilah (kedalam jiwanya) dengan meresapkan cinta kepada fadhilah (kedalam jiwanya) dengan perasaan cinta kepada fadhilah dan menjauhi kekejian (dengan keyakinan bahwa perbuatan itu benar-benar keji).
            Tujuan pendidikan akhlak menurut Mahmud Yunus “Tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk putra-putri yang berakhlak mulia, berbudi luhur, bercita-cita tinggi, berkemauan keras, beradab, sopan santun, baik tingkah lakunya, manis tutur bahasanya, jujur dalam segala perbuatannya, suci murni hatinya”.
Tujuan di atas selaras dengan tujuan pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20/Th. 2003, bab II, Pasal 3 dinyatakan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

C. Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak
1. Akhlak Terhadap Allah SWT
Akhlak kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai sikap/perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Tuhan yang Khaliq.
Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah :
Ø  Karena Allah yang telah menciptakan manusia dan menciptakan manusia di air yang ditumpahkan keluar dari antara tulang punggung dan tulang rusuk. (Q.S. al-Thariq : 5-7). Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang kemudian diproses menjadi benih yang disimpan[3] dalam tempat yang kokoh (rahim) setelah ia menjadi segumpal darah, daging, dijadikan tulang dan dibalut dengan daging, dan selanjutnya diberikan ruh. (Q.S. Al-Mu’minun : 12-13)
Ø  Karena Allah lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal, pikiran dan hati sanubari. Di samping anggota badan yang kokoh dan sempurna pada manusia.
Ø  Karena Allah lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang dan ternak dan lain sebagainya. (Q.S.al Jatsiah : 12-13)
Ø  Allah lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan untuk menguasai daratan dan lautan.
2. Akhlak terhadap Makhluk
a.   Akhlak kepada Rasulullah
Ø  Mencintai dan memuliakan Rasul
           Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian nabi dan rasul; tidak ada lagi nabi, apalagi rasul sesudah beliau. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia sampai hari Kiamat nanti. Kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta.

Ø  Mengikuti dan mentaati Rasul
           Mengikuti dan mematuhi Rasullulah SAW, berarti mengikuti jalan lurus dengan mematuhi segala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah yang terlembaga dalam Al-Quran dan Sunnah. Itulah dua warisan yang ditinggalkan Rasul untuk umat manusia.

b. Akhlak terhadap orang tua
Meliputi mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya, merendahkan diri kepada keduanya diiringi rasa kasih sayang, berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, pergunakan kata-kata lemah lembut, berbuat baik kepada keduanya sebaik-baiknya dan mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.
c. Akhlak terhadap diri sendiri
Meliputi Memelihara kesucian diri, baik jasmaniah maupun rohaniah, Memelihara kerapihan diri, Berlaku tenang, Menambah ilmu pengetahuan, Membina disiplin pribadi , Pemaaf dan memohon maaf, Sikap sederhana dan jujur dan Menghindari perbuatan tercela.
d. Akhlak terhadap keluarga dan karib kerabat,
            Antara lain : saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga, saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak, berbakti kepada ibu bapak, mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan memelihara hubungan silaturrahim.
e. Akhlak terhadap tetangga
Antara lain : saling mengunjungi, saling bantu diwaktu senang lebih-lebih tatkala susah, saling beri member, saling hormat menghormati, saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.
f. Akhlak terhadap masyarakat
            Meliputi memuliakan tamu, menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, saling menolong dalam melakukan kebajikan dan taqwa, menganjurkan anggota masyarakat termasuik dirin sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan mencegah orang lain melakukan perbuiatan jahat dan munkar dan bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama.

D. Cara Penerapan Metode Pendidikan Akhlak Dalam Pendidikan Islam
1. Metode Keteladanan ( Uswatun Khasanah )
Bahwasanya anak-anak memiliki kecenderungan atau sifat peniru yang sangat besar, maka metode uswatun khasanah “contoh teladan” dari orang-orang yang terdekat adalah sangat tepat. Dalam hal ini orang yang paling dekat kepada anak adalah orang tuanya, karena itu contoh teladan orang tuanya sangat berpengaruh pada pembentukan mental dan akhlak anak-anak.[4]
Metode keteladanan ini merupakan metode yang diajarkan Allah swt kepada hamba-hambanya, yaitu dengan diutusnya seorang Rasul untuk menyanpaikan risalah samawi kepada setiap umat. Rasul yang diutus tersebut adalah seseorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral, maupun intelektual. Sehingga umat manusia meneladaninya, belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan metodenya, dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji.
2. Metode Nasehat/ Ceramah ( Mauidhah Khasanah )
Diantara metode dan cara-cara mendidik yang efektif didalam upaya membentuk keimanan anak, mempersiapkannya secara moral, pisikis dan secara social adalah mendidiknya dengan memberi nasehat. Metode ceramah disebut juga sebagai metode mauidzah khasanah merupakan metode yang menekankan pada pemberian dan penyampaian informasi. Dalam pelaksanaannya pendidik dapat menyampaikan materi agama dengan cara persuasif, memberikan motivasi, baik berupa kisah teladan atau memberikan metafora (amtsal) sehingga peserta didik dapat mencerna dengan mudah apa yang disampaikan.
Allah berfirman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ 
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.(Q.S. An-Hahl:125)
“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S. Al-Araf 35)

DAFTAR PUSTAKA
  Alwan Khoiri dkk, Akhlak/ Tasawuf, (Yogyakarta2005).
  Ngain Naim, Pendidikan Multikultultural Konsep dan Aplikasi, (Yogyakarta 2001).
  Oemar Muhammad al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta1992).
  Abdjan Jahja, paradigma pendidikan islam, (Yogyakarta 2014).


[1]   Alwan Khoiri dkk, Akhlak/ Tasawuf, (Yogyakarta2005).Hal:25.
[2]   Ngain Naim, Pendidikan Multikultultural Konsep dan Aplikasi, (Yogyakarta 2001).Hal:35.
[3]  Oemar Muhammad al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta1992).Hal:78.
[4]  Abdjan Jahja, paradigma pendidikan islam, (Yogyakarta 2014).Hal:98.


Senin, 01 Oktober 2018

Kel. 1 PAI.1a. Konsep Dasar Pendidikan Akhlak

KONSEP DASAR PENDIDIKAN AKHLAK 
DISUSUN OLEH:
MUHAMMAD PUTRA ADINATA
IRMA MELATI
NOVIA SRI RAHAYU

DOSEN PEMBIMBING
H.MUAMAR AL QADRI,M.Pd

BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Pendidikan akhlak adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk menanamkan nilai-nilai, ataupun ataupun norma-norma tentang budi pekerti, sehingga manusia dapat memahami dan mengerti, serta mengamalkan norma-norma tentang budi pekerti itu sendiri.Baik buruknya akhlak ataupun budi pekerti seseorang adalah satu penilaian yang diberikan oleh masyarakat terhadap perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Parameter ukuran baik buruknya perbuatan manusia itu diukur berdasarkan norma-norma agama, ataupun norma-norma adat istiadat dari masyarakat itu sendiri.Islam menentukan, bahwa untuk mengukur baik buruknya suatu perbuatan manusia adalah berdasarkan syariat agama yang bersumber dari wahyu Allah SWT, yaitu al quran dan hadist Rasulullah SAW.
Orang yang tidak memiliki akhlak, maka perbuatan dan tingkah lakunya akan jauh dari sikap terpuji. Maraknya perbuatan maksiyat yang oleh masyarakat dinilai sebagai sebuah perbuatan yang lazim, adalah sebuah bukti telah terjadinya krisis akhlak ditengah-tengah masyarakat. Semestinya manusia sadar dan kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang diciptakan Allah dengan akhlak yang mulia. Orang yang paling sempurna keimannannya adalah orang yang baik akhlaknya. Akhlak Islam yang mulia ini akan membawa umat  untuk selamat hidupnya di  dunia dan akhirat. Pendidikan Islam menjadi salah satu pondasi bagi berdirinya akhlak yang baik, mampu memberikan pegangan hidup agar sesuai dengan agama dan kehidupan yang diharapkan masyarakat.
B. Rumusan Masalah
Apa pengertian dari pendidikan akhlak dan pendidikan Islam?
Bagaimana dasar-dasar dan tujuan pendidikan akhlak mulia dalam pendidikan Islam?
Apa saja ruang lingkup pendidikan akhlak mulia?
Bagaimana cara penerapan metode pendidikan akhlak mulia dalam pendidikan islam?


C Tujuan
Untuk mengetahui pengertian dari pendidikan akhlak dan pendidikan Islam.
Untuk mengetahui dasar-dasar dan tujuan pendidikan akhlak mulia dalam pendidikan Islam.
Untuk mengetahui ruang lingkup pendidikan akhlak mulia.
Untuk mengetahui cara penerapan metode pendidikan akhlak mulia dalam pendidikan Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Akhlak dan Pendidikan Islam
Pendidikan adalah bimbingan dari pendidik terhadap yang dididik secara universal demi terciptanya insan yang bermanfaat. Dengan adanya pendidikan maka diharapkan manusia bisa berguna bagi kemaslahatan alam.
Akhlak  adalah sifat dan jiwa yang melekat dalam diri seseorang menjadi pribadi yang utuh dan menyatu dalam diri orang tersebut sehingga akhirnya tercermin melalui tingkah laku  dalam kehidupan sehari-hari bahkan menjadi adat kebiasaan.
Setelah dijelaskan secara terpisah mengenai pengertian pendidikan dan pengertian akhlak, maka dapat disimpulkanbahwa pendidikan akhlak adalah perpaduan antara pengertian Pendidikan dan Akhlak. Jadi yang dimaksud dengan Pendidikan Akhlak adalah bimbingan, asuhan dan pertolongan dari orang dewasa untuk membawa anak didik ke tingkat kedewasaan yang mampu membiasakan diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan menghindari sifat-sifat yang tercela. Atau dengan kata lain pendidikan mengenai dasar-dasar akhlak dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa anak-anak sampai ia menjadi seorang mukallaf, seseorang yang telah siap mengarungi lautan kehidupan.  Ia tumbuh dan berkembang dengan berpijak pada landasan iman kepada Allah dan terdidik untuk selalu kuat, ingat bersandar, meminta pertolongan dan berserah diri kepada-Nya, maka ia akan memiliki potensi dan respon dalam menerima setiap keutamaan dan kemuliaan. Di samping itu terbiasa melakukan akhlak mulia.
Menurut Guru besar Pendidikan Islam IAIN Sunan Gunung Jati Bandung menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap seseorang agar berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.


B. Dasar-Dasar dan Tujuan Pendidikan Akhlak dalam Pendidikan Islam
1. Dasar- Dasar Pendidikan Akhlak Mulia
Islam merupakan agama yang sempurna, sehingga setiap ajaran yang ada dalam Islam memiliki dasar pemikiran, begitu pula dengan pendidikan akhlak. Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan akhlak dalam agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri sebagai dasar utama dalam Agama Islam telah memberikan petunjuk pada jalan kebenaran, mengarahkan kepada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat. Di antara ayat yang menyebutkan pentingnya akhlak adalah dalam surat Ali Imran ayat 104:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.
Dalam ayat tersebut Allah SWT menganjurkan hamba-Nya untuk dapat menasehati, mengajar, membimbing dan mendidik sesamanya dalam hal melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan. Dengan demikian Allah telah memberikan dasar yang jelas mengenai pendidikan akhlak yang mana merupakan suatu usaha untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar berbudi pekerti luhur dan berakhlaqul karimah. 
Selain menyebutkan pentingnya pendidikan akhlak, Al-Qur’an pun menunjukkan siapa figur yang harus dicontoh dan dijadikan sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.Al-Ahzab: 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan figur utama sebagai manusia dan utusan Allah yang patut dijadikan panutan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Allah pun dalam ayat lain memuji kepribadian Rasulullah SAW sebagaimana firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam: 4)
Dasar pentingnya akhlak dalam As-Sunnah dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya:
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Bahwasanya Raasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”. (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Dari ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah Saw. di atas menunjukkan bahwa dasar dan pijakan pendidikan akhlak adalah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Dari dasar dan pedoman itulah dapat diketahui kriteria suatu perbuatan itu baik ataupun buruk.
2. Tujuan Pendidikan Akhlak Mulia
Tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral bukan hanya sekedar memenuhi otak murid-murid dengan ilmu pengetahuan tetapi tujuannya ialah mendidik akhlak dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental, perasaan dan praktek serta mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat.
Adapun tujuan pendidikan akhlak secara umum yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
Tujuan pendidikan akhlak adalah mencapai kebahagiaan kebahagiaan hidup umat manusia dalam kehidupannya, baik di dunia maupun akhirat. Jika seseorang dapat menjaga kualitas mu’amalah dan mu’amalah ma’annas, insya Allah akan memperoleh rida-Nya. Orang mendapat rida Allah niscaya akan memperoleh jaminan kehidupan baik di duniawai maupun ukhrawi.
    Tujuan pendidikan akhlak menurut Omar Muhammad Al Thoumy Al- Syaibani “Tujuan tertinggi agama dan akhlak ialah menciptakan kebahagiaan dua kampung (dunia dan akherat), kesempurnaan jiwa bagi individu, dan menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan dan keteguhan bagi masyarakat”. Pada dasarnya apa yang akan dicapai dalam pendidikan akhlak tidak berbeda dengan tujuan pendidikan Islam itu sendiri.
    Tujuan pendidikan akhlak menurut M. Athiyah al Abrasyi “Tujuan pendidikan budi pekerti adalah membentuk manusia yang berakhlak (baik laki-laki maupun wanita) agar mempunyai kehendak yang kuat, perbuatan-perbuatan yang baik, meresapkan fadhilah (kedalam jiwanya) dengan meresapkan cinta kepada fadhilah (kedalam jiwanya) dengan perasaan cinta kepada fadhilah dan menjauhi kekejian (dengan keyakinan bahwa perbuatan itu benar-benar keji).
    Tujuan pendidikan akhlak menurut Mahmud Yunus “Tujuan pendidikan akhlak adalah membentuk putra-putri yang berakhlak mulia, berbudi luhur, bercita-cita tinggi, berkemauan keras, beradab, sopan santun, baik tingkah lakunya, manis tutur bahasanya, jujur dalam segala perbuatannya, suci murni hatinya”.
Tujuan di atas selaras dengan tujuan pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20/Th. 2003, bab II, Pasal 3 dinyatakan bahwa: “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdasakan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
C. Ruang Lingkup Pendidikan Akhlak 
1. Akhlak Terhadap Allah SWT
Akhlak kepada Allah SWT dapat diartikan sebagai sikap/perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada Tuhan yang Khaliq.
Sekurang-kurangnya ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah :
Karena Allah yang telah menciptakan manusia dan menciptakan manusia di air yang ditumpahkan keluar dari antara tulang punggung dan tulang rusuk. (Q.S. al-Thariq : 5-7). Dalam ayat lain, Allah menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang kemudian diproses menjadi benih yang disimpan  dalam tempat yang kokoh (rahim) setelah ia menjadi segumpal darah, daging, dijadikan tulang dan dibalut dengan daging, dan selanjutnya diberikan ruh. (Q.S. Al-Mu’minun : 12-13)
Karena Allah lah yang telah memberikan perlengkapan panca indera, berupa pendengaran, penglihatan, akal, pikiran dan hati sanubari. Di samping anggota badan yang kokoh dan sempurna pada manusia.
Karena Allah lah yang telah menyediakan berbagai bahan dan sarana yang diperlukan bagi kelangsungan hidup manusia, seperti bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, air, udara, binatang dan ternak dan lain sebagainya. (Q.S.al Jatsiah : 12-13)
Allah lah yang telah memuliakan manusia dengan diberikannya kemampuan untuk menguasai daratan dan lautan.
2. Akhlak terhadap Makhluk
a.   Akhlak kepada Rasulullah
Mencintai dan memuliakan Rasul
           Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa nabi Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian nabi dan rasul; tidak ada lagi nabi, apalagi rasul sesudah beliau. Beliau diutus oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia sampai hari Kiamat nanti. Kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta.

Mengikuti dan mentaati Rasul
           Mengikuti dan mematuhi Rasullulah SAW, berarti mengikuti jalan lurus dengan mematuhi segala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah yang terlembaga dalam Al-Quran dan Sunnah. Itulah dua warisan yang ditinggalkan Rasul untuk umat manusia.

b. Akhlak terhadap orang tua
Meliputi mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat lainnya, merendahkan diri kepada keduanya diiringi rasa kasih sayang, berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, pergunakan kata-kata lemah lembut, berbuat baik kepada keduanya sebaik-baiknya dan mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal dunia.
c. Akhlak terhadap diri sendiri
Meliputi Memelihara kesucian diri, baik jasmaniah maupun rohaniah, Memelihara kerapihan diri, Berlaku tenang, Menambah ilmu pengetahuan, Membina disiplin pribadi , Pemaaf dan memohon maaf, Sikap sederhana dan jujur dan Menghindari perbuatan tercela.
d. Akhlak terhadap keluarga dan karib kerabat,
  Antara lain : saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam kehidupan keluarga, saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh hak, berbakti kepada ibu bapak, mendidik anak-anak dengan kasih sayang dan memelihara hubungan silaturrahim.
e. Akhlak terhadap tetangga
Antara lain : saling mengunjungi, saling bantu diwaktu senang lebih-lebih tatkala susah, saling beri member, saling hormat menghormati, saling menghindari pertengkaran dan permusuhan.
f. Akhlak terhadap masyarakat
  Meliputi memuliakan tamu, menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, saling menolong dalam melakukan kebajikan dan taqwa, menganjurkan anggota masyarakat termasuik dirin sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan mencegah orang lain melakukan perbuiatan jahat dan munkar dan bermusyawarah dalam segala urusan mengenai kepentingan bersama
D. Cara Penerapan Metode Pendidikan Akhlak Dalam Pendidikan Islam
1. Metode Keteladanan ( Uswatun Khasanah)
Bahwasanya anak-anak memiliki kecenderungan atau sifat peniru yang sangat besar, maka metode uswatun khasanah “contoh teladan” dari orang-orang yang terdekat adalah sangat tepat. Dalam hal ini orang yang paling dekat kepada anak adalah orang tuanya, karena itu contoh teladan orang tuanya sangat berpengaruh pada pembentukan mental dan akhlak anak-anak. 
Metode keteladanan ini merupakan metode yang diajarkan Allah swt kepada hamba-hambanya, yaitu dengan diutusnya seorang Rasul untuk menyanpaikan risalah samawi kepada setiap umat. Rasul yang diutus tersebut adalah seseorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral, maupun intelektual. Sehingga umat manusia meneladaninya, belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan metodenya, dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji.
2. Metode Nasehat/ Ceramah ( Mauidhah Khasanah )
Diantara metode dan cara-cara mendidik yang efektif didalam upaya membentuk keimanan anak, mempersiapkannya secara moral, pisikis dan secara social adalah mendidiknya dengan memberi nasehat. Metode ceramah disebut juga sebagai metode mauidzah khasanah merupakan metode yang menekankan pada pemberian dan penyampaian informasi. Dalam pelaksanaannya pendidik dapat menyampaikan materi agama dengan cara persuasif, memberikan motivasi, baik berupa kisah teladan atau memberikan metafora (amtsal) sehingga peserta didik dapat mencerna dengan mudah apa yang disampaikan.
Allah berfirman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ 
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”.(Q.S. An-Hahl:125)
“Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka Barangsiapa yang bertakwa dan Mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Q.S. Al-Araf 35)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Pendidikan Akhlak adalah bimbingan, asuhan dan pertolongan dari orang dewasa untuk membawa anak didik ke tingkat kedewasaan yang mampu membiasakan diri dengan sifat-sifat yang terpuji dan menghindari sifat-sifat yang tercela. Dasar pendidikan akhlak dalam agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an sendiri sebagai dasar utama dalam Agama Islam telah memberikan petunjuk pada jalan kebenaran, mengarahkan kepada pencapaian kebahagiaan di dunia dan akhirat.
            Dalam pendidikan akhlak mulia terdapat ruang lingkup akhlak kepada Allah, manusia dan lingkungan. Penerapan metode pendidikan akhlak mulia dalam pendidikan Islam adalah dengan keteladanan, nasihat, dan pembiasaan.












DAFTAR PUSTAKA
  Alwan Khoiri dkk, Akhlak/ Tasawuf, (Yogyakarta2005).
  Ngain Naim, Pendidikan Multikultultural Konsep dan Aplikasi, (Yogyakarta 2001).
  Oemar Muhammad al-Taomy al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta1992).
  Abdjan Jahja, paradigma pendidikan islam, (Yogyakarta 2014).



Nyanyian Sunyi di Lembah Derita

  Nyanyian Sunyi di Lembah Derita Di bawah langit yang kelam membisu, Awan mendung meratap pilu. Bumi basah, air mata turun tak henti, Menya...