Modul Kajian Matan Al-Ghāyah wa At-Taqrīb
Bagian 1: Muqaddimah dan Kitab Thaharah
Penyusun matan: Al-Qadhi Abu Syuja‘ Ahmad bin Husain Al-Ashfahani
Mazhab: Syafi‘i
Catatan pengajar: Kitab ini merupakan matan fikih klasik. Penjelasannya perlu merujuk kepada syarah dan pendapat mu‘tamad ulama Syafi‘iyah. Beberapa persoalan medis, ukuran, transaksi, hukum negara, dan masalah sosial kontemporer juga perlu dijelaskan berdasarkan keadaan masa kini serta bimbingan ulama yang kompeten.
A. Muqaddimah
Teks Arab
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَآلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَصَحَابَتِهِ أَجْمَعِينَ.
قَالَ الْقَاضِي أَبُو شُجَاعٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَحْمَدَ الْأَصْفَهَانِيُّ رَحْمَةُ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِ:
سَأَلَنِي بَعْضُ الْأَصْدِقَاءِ حَفِظَهُمُ اللهُ تَعَالَى أَنْ أَعْمَلَ مُخْتَصَرًا فِي الْفِقْهِ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ وَرِضْوَانُهُ، فِي غَايَةِ الِاخْتِصَارِ وَنِهَايَةِ الْإِيجَازِ، لِيَقْرُبَ عَلَى الْمُتَعَلِّمِ دَرْسُهُ، وَيَسْهُلَ عَلَى الْمُبْتَدِئِ حِفْظُهُ، وَأَنْ أُكْثِرَ فِيهِ مِنَ التَّقْسِيمَاتِ وَحَصْرِ الْخِصَالِ، فَأَجَبْتُهُ إِلَى ذٰلِكَ، طَالِبًا لِلثَّوَابِ، رَاغِبًا إِلَى اللهِ تَعَالَى فِي التَّوْفِيقِ لِلصَّوَابِ، إِنَّهُ عَلَى مَا يَشَاءُ قَدِيرٌ، وَبِعِبَادِهِ لَطِيفٌ خَبِيرٌ.
Terjemah
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan selawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, nabi yang ummi, kepada keluarga beliau yang suci, dan seluruh sahabat beliau.
Al-Qadhi Abu Syuja‘ Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Ashfahani—semoga Allah merahmatinya—berkata:
“Sebagian sahabat memintaku menyusun sebuah kitab ringkas mengenai fikih menurut mazhab Imam Syafi‘i. Kitab itu diminta berada pada puncak keringkasan dan sangat padat, agar pelajar mudah mempelajarinya dan pemula mudah menghafalnya. Mereka juga meminta agar aku memperbanyak pembagian dan pembatasan jumlah perkara.
Aku memenuhi permintaan tersebut dengan mengharapkan pahala dan memohon kepada Allah agar diberi pertolongan untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas apa yang dikehendaki-Nya serta Mahalembut lagi Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya.”
Poin penting untuk pengajian
Belajar fikih dimulai dengan mengagungkan dan memuji Allah.
Penulis berselawat sebelum memulai pembahasan.
Kitab ini disusun berdasarkan mazhab Imam Syafi‘i.
Matan dibuat ringkas agar mudah dipelajari dan dihafalkan.
Banyak hukum disampaikan dengan metode hitungan dan pembagian.
Ringkasnya matan membuatnya membutuhkan penjelasan atau syarah.
Mengajar dan menulis ilmu agama harus diniatkan untuk mencari rida dan pahala Allah.
Kebenaran dan ketepatan memahami agama hanya dapat diraih dengan pertolongan Allah.
Matan merupakan pintu masuk belajar, bukan satu-satunya rujukan untuk memberikan fatwa.
B. Kitab Thaharah
Pengertian thaharah
Secara bahasa, thaharah berarti bersih atau suci. Secara fikih, thaharah adalah melakukan sesuatu yang menyebabkan seseorang diperbolehkan melaksanakan salat, seperti wudu, mandi wajib, tayamum, dan menghilangkan najis.
Poin pembuka
Bersuci merupakan pintu masuk ibadah.
Salat tidak sah tanpa bersuci dari hadas dan najis.
Kebersihan secara fisik perlu disertai kebersihan hati dari syirik, riya, sombong, dan penyakit batin.
Air menjadi alat utama bersuci, sedangkan tanah digunakan dalam tayamum ketika memenuhi ketentuannya.
1. Macam-macam air
Teks Arab
الْمِيَاهُ الَّتِي يَجُوزُ بِهَا التَّطْهِيرُ سَبْعُ مِيَاهٍ: مَاءُ السَّمَاءِ، وَمَاءُ الْبَحْرِ، وَمَاءُ النَّهْرِ، وَمَاءُ الْبِئْرِ، وَمَاءُ الْعَيْنِ، وَمَاءُ الثَّلْجِ، وَمَاءُ الْبَرَدِ.
ثُمَّ الْمِيَاهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ:
طَاهِرٌ مُطَهِّرٌ غَيْرُ مَكْرُوهٍ، وَهُوَ الْمَاءُ الْمُطْلَقُ.
وَطَاهِرٌ مُطَهِّرٌ مَكْرُوهٌ، وَهُوَ الْمَاءُ الْمُشَمَّسُ.
وَطَاهِرٌ غَيْرُ مُطَهِّرٍ، وَهُوَ الْمَاءُ الْمُسْتَعْمَلُ، وَالْمُتَغَيِّرُ بِمَا خَالَطَهُ مِنَ الطَّاهِرَاتِ.
وَمَاءٌ نَجِسٌ، وَهُوَ الَّذِي حَلَّتْ فِيهِ نَجَاسَةٌ، وَهُوَ دُونَ الْقُلَّتَيْنِ، أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ. وَالْقُلَّتَانِ خَمْسُمِائَةِ رِطْلٍ بَغْدَادِيٍّ تَقْرِيبًا فِي الْأَصَحِّ.
Terjemah
Air yang boleh digunakan untuk bersuci ada tujuh: air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air embun beku.
Selanjutnya, air terbagi menjadi empat:
Air yang suci, dapat menyucikan, dan tidak makruh digunakan, yaitu air mutlak.
Air yang suci dan dapat menyucikan, tetapi makruh digunakan, yaitu air yang dipanaskan matahari.
Air yang suci tetapi tidak dapat menyucikan, yaitu air musta‘mal serta air yang berubah karena bercampur dengan benda suci.
Air najis, yaitu air kurang dari dua qullah yang terkena najis, atau air dua qullah yang berubah karena najis. Ukuran dua qullah disebutkan sekitar lima ratus kati Baghdad menurut pendapat yang lebih sahih.
Poin penting untuk pengajian
Air mutlak adalah air yang masih dapat disebut “air” tanpa tambahan nama yang mengikat.
Air hujan, laut, sungai, sumur, mata air, salju, dan embun beku berasal dari sumber berbeda, tetapi semuanya termasuk air mutlak selama sifat dasarnya tetap.
Air yang berubah secara ringan karena tempatnya, lama tergenang, lumut, atau sesuatu yang sulit dihindari pada dasarnya tetap suci dan menyucikan.
Pembahasan air yang dipanaskan matahari dalam kitab klasik berkaitan dengan kondisi tertentu. Air yang dipanaskan menggunakan alat modern tidak otomatis makruh.
Air musta‘mal adalah air sedikit yang telah digunakan untuk mengangkat hadas dalam perincian mazhab Syafi‘i.
Air yang berubah banyak karena bercampur dengan benda suci—sehingga tidak lagi disebut air mutlak—tidak digunakan untuk wudu atau mandi wajib.
Air banyak menjadi najis apabila warna, rasa, atau baunya berubah karena najis.
Konversi dua qullah ke ukuran modern memiliki perbedaan perhitungan; hendaknya pengajar mengikuti ukuran yang ditetapkan lembaga fatwa atau ulama setempat.
Jangan mudah menghukumi air sebagai najis hanya berdasarkan prasangka.
2. Kulit bangkai yang disamak
Teks Arab
وَجُلُودُ الْمَيْتَةِ تَطْهُرُ بِالدِّبَاغِ إِلَّا جِلْدَ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ، وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا. وَعَظْمُ الْمَيْتَةِ وَشَعْرُهَا نَجِسٌ إِلَّا الْآدَمِيَّ.
Terjemah
Kulit bangkai menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing, babi, dan hewan yang lahir dari keduanya atau salah satunya. Tulang dan rambut bangkai adalah najis, kecuali jasad manusia.
Poin penting
Menyamak adalah membersihkan kulit dari darah, lemak, bau, dan bagian yang dapat membusuk.
Tidak setiap proses mengeringkan kulit disebut penyamakan yang sah.
Kulit anjing dan babi tidak menjadi suci dengan disamak menurut mazhab Syafi‘i.
Kehormatan manusia tetap dijaga setelah meninggal.
Penggunaan produk kulit modern perlu memperhatikan asal bahan dan proses pembuatannya.
Persoalan rambut atau bulu hewan mempunyai perincian berdasarkan keadaan hewan ketika bulu itu terpisah.
3. Penggunaan wadah
Teks Arab
وَلَا يَجُوزُ اسْتِعْمَالُ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ، وَيَجُوزُ اسْتِعْمَالُ غَيْرِهِمَا مِنَ الْأَوَانِي.
Terjemah
Tidak diperbolehkan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan perak. Wadah yang terbuat dari bahan selain keduanya boleh digunakan.
Poin penting
Larangan meliputi penggunaan wadah emas dan perak untuk makan, minum, dan penggunaan pribadi sejenisnya.
Larangan tersebut mendidik umat agar menjauhi kemewahan berlebihan dan kesombongan.
Emas atau perak sebagai warna tidak selalu sama hukumnya dengan wadah yang benar-benar terbuat dari emas atau perak.
Wadah dari kaca, kayu, besi, tembaga, keramik, dan bahan suci lainnya pada dasarnya boleh digunakan.
Status lapisan atau campuran emas dan perak memerlukan perincian fikih.
4. Bersiwak
Teks Arab
وَالسِّوَاكُ مُسْتَحَبٌّ فِي كُلِّ حَالٍ إِلَّا بَعْدَ الزَّوَالِ لِلصَّائِمِ، وَهُوَ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ أَشَدُّ اسْتِحْبَابًا: عِنْدَ تَغَيُّرِ الْفَمِ مِنْ أَزْمٍ وَغَيْرِهِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ مِنَ النَّوْمِ، وَعِنْدَ الْقِيَامِ إِلَى الصَّلَاةِ.
Terjemah
Bersiwak dianjurkan dalam setiap keadaan, kecuali setelah matahari tergelincir bagi orang yang sedang berpuasa. Anjuran bersiwak menjadi lebih kuat pada tiga keadaan: ketika bau mulut berubah karena lama diam atau sebab lainnya, ketika bangun tidur, dan ketika hendak melaksanakan salat.
Poin penting
Siwak bertujuan membersihkan mulut dan memperoleh rida Allah.
Anjuran paling kuat disebutkan ketika bau mulut berubah, bangun tidur, dan akan salat.
Sikat dan pasta gigi dapat membersihkan mulut, tetapi pembahasan pahala khusus siwak perlu memperhatikan alat dan niatnya.
Mengenai bersiwak setelah tergelincir matahari bagi orang berpuasa terdapat pembahasan lebih lanjut dalam mazhab Syafi‘i; sejumlah ulama belakangan tidak memakruhkannya.
Orang berpuasa harus berhati-hati agar air atau pasta gigi tidak tertelan.
Kebersihan mulut merupakan bagian dari adab membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berinteraksi dengan orang lain.
5. Fardu wudu
Teks Arab
وَفُرُوضُ الْوُضُوءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَمَسْحُ بَعْضِ الرَّأْسِ، وَغَسْلُ الرِّجْلَيْنِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، وَالتَّرْتِيبُ عَلَى مَا ذَكَرْنَاهُ.
Terjemah
Fardu wudu ada enam:
Berniat ketika mulai membasuh wajah.
Membasuh seluruh wajah.
Membasuh kedua tangan sampai siku.
Mengusap sebagian kepala.
Membasuh kedua kaki sampai mata kaki.
Melakukannya sesuai urutan yang telah disebutkan.
Poin penting
Niat berada di dalam hati; melafalkannya bukan rukun wudu.
Niat harus menyertai basuhan pertama pada bagian wajah.
Batas wajah ialah dari tempat tumbuh rambut yang normal sampai dagu, dan antara kedua telinga.
Siku dan mata kaki wajib terkena air.
Mengusap kepala berbeda dari sekadar menempelkan tangan kering.
Air harus sampai pada anggota wudu tanpa terhalang cat, lem, kuteks, atau bahan kedap air.
Tertib berarti mendahulukan wajah, tangan, kepala, kemudian kaki.
Seseorang perlu belajar praktik wudu langsung, bukan hanya menghafal teorinya.
6. Sunah-sunah wudu
Teks Arab
وَسُنَنُهُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَةُ، وَغَسْلُ الْكَفَّيْنِ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا الْإِنَاءَ، وَالْمَضْمَضَةُ، وَالِاسْتِنْشَاقُ، وَمَسْحُ جَمِيعِ الرَّأْسِ، وَمَسْحُ الْأُذُنَيْنِ ظَاهِرِهِمَا وَبَاطِنِهِمَا بِمَاءٍ جَدِيدٍ، وَتَخْلِيلُ اللِّحْيَةِ الْكَثَّةِ، وَتَخْلِيلُ أَصَابِعِ الْيَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ، وَتَقْدِيمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، وَالطَّهَارَةُ ثَلَاثًا ثَلَاثًا، وَالْمُوَالَاةُ.
Terjemah
Sunah wudu meliputi membaca basmalah, membasuh kedua telapak tangan sebelum memasukkannya ke dalam wadah, berkumur, memasukkan air ke hidung, mengusap seluruh kepala, mengusap bagian luar dan dalam kedua telinga dengan air baru, menyela jenggot yang lebat, menyela jari tangan dan kaki, mendahulukan anggota kanan, membasuh tiga kali, dan melakukannya secara berkesinambungan.
Poin penting
Melaksanakan sunah menyempurnakan wudu, tetapi meninggalkannya tidak membatalkan wudu.
Jangan berlebihan menggunakan air.
Membasuh anggota wudu lebih dari tiga kali dengan sengaja bukan bentuk kesempurnaan.
Menyela jari penting agar air sampai ke bagian yang tersembunyi.
Mendahulukan kanan berlaku pada kedua tangan dan kaki.
Muwālah berarti tidak memberi jeda panjang antara anggota-anggota wudu.
Pengajar perlu membedakan secara tegas antara rukun dan sunah.
7. Istinja dan adab buang hajat
Teks Arab
وَالِاسْتِنْجَاءُ وَاجِبٌ مِنَ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِالْأَحْجَارِ ثُمَّ يُتْبِعَهَا بِالْمَاءِ، وَيَجُوزُ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى الْمَاءِ أَوْ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ يُنْقِي بِهِنَّ الْمَحَلَّ، فَإِذَا أَرَادَ الِاقْتِصَارَ عَلَى أَحَدِهِمَا فَالْمَاءُ أَفْضَلُ.
Terjemah
Istinja wajib dilakukan setelah buang air kecil dan besar. Cara yang lebih utama adalah membersihkan dengan batu, kemudian dilanjutkan dengan air. Boleh mencukupkan dengan air atau dengan tiga batu yang dapat membersihkan tempat keluarnya najis. Apabila memilih salah satunya, menggunakan air lebih utama.
Poin penting
Tujuan istinja adalah menghilangkan najis dari tempat keluarnya.
Tisu yang bersih dan mampu menyerap dapat mengambil fungsi batu dengan syarat-syaratnya.
Air lebih sempurna dalam membersihkan najis.
Apabila najis telah menyebar jauh dari tempat keluarnya, membersihkannya harus menggunakan air.
Menjaga privasi dan menutup aurat termasuk adab penting.
Jangan menggunakan benda yang dihormati, makanan, atau benda berbahaya untuk istinja.
Adab buang hajat
Teks Arab
وَيَجْتَنِبُ اسْتِقْبَالَ الْقِبْلَةِ وَاسْتِدْبَارَهَا فِي الصَّحْرَاءِ، وَيَجْتَنِبُ الْبَوْلَ وَالْغَائِطَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ، وَتَحْتَ الشَّجَرَةِ الْمُثْمِرَةِ، وَفِي الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ وَالثَّقْبِ، وَلَا يَتَكَلَّمُ عَلَى الْبَوْلِ.
Terjemah
Hendaknya seseorang tidak menghadap atau membelakangi kiblat ketika buang hajat di tempat terbuka. Ia juga harus menghindari buang air di air yang tergenang, di bawah pohon berbuah, di jalan, tempat orang berteduh, dan lubang. Hendaknya ia tidak berbicara ketika buang hajat.
Poin penting
Islam melarang perbuatan yang mengotori lingkungan dan mengganggu orang lain.
Jangan buang air di jalan, sumber air, fasilitas umum, atau tempat manusia beraktivitas.
Larangan pada lubang juga bertujuan menghindari bahaya terhadap hewan atau diri sendiri.
Toilet harus dijaga kebersihannya setelah digunakan.
Pembahasan arah kiblat mempunyai perincian antara tempat terbuka dan toilet yang memiliki penutup.
8. Perkara yang membatalkan wudu
Teks Arab
وَالَّذِي يَنْقُضُ الْوُضُوءَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: مَا خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ، وَالنَّوْمُ عَلَى غَيْرِ هَيْئَةِ الْمُتَمَكِّنِ، وَزَوَالُ الْعَقْلِ بِسُكْرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَلَمْسُ الرَّجُلِ الْمَرْأَةَ الْأَجْنَبِيَّةَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ، وَمَسُّ فَرْجِ الْآدَمِيِّ بِبَاطِنِ الْكَفِّ، وَمَسُّ حَلْقَةِ دُبُرِهِ عَلَى الْجَدِيدِ.
Terjemah
Perkara yang membatalkan wudu ada enam:
Sesuatu yang keluar dari dua jalan.
Tidur dalam posisi yang tidak menetapkan pantat pada tempat duduk.
Hilangnya akal karena mabuk, sakit, atau sebab lainnya.
Bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa penghalang.
Menyentuh kemaluan manusia dengan bagian dalam telapak tangan.
Menyentuh lingkaran dubur menurut pendapat baru Imam Syafi‘i.
Poin penting
Sesuatu yang keluar dari qubul atau dubur pada dasarnya membatalkan wudu.
Tidur yang membatalkan berkaitan dengan hilangnya kesadaran dan posisi duduk.
Pingsan, mabuk, dan hilang akal membatalkan wudu.
Dalam mazhab Syafi‘i, persentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang memenuhi ketentuan dapat membatalkan wudu meskipun tidak disertai syahwat.
Persentuhan dengan mahram memiliki perincian tersendiri.
Sentuhan melalui pakaian atau penghalang tidak membatalkan wudu.
Pengajar harus menjelaskan bahwa masalah persentuhan kulit termasuk persoalan yang diperselisihkan antarmazhab.
9. Penyebab mandi wajib
Teks Arab
وَالَّذِي يُوجِبُ الْغُسْلَ سِتَّةُ أَشْيَاءَ: ثَلَاثَةٌ تَشْتَرِكُ فِيهَا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ، وَهِيَ الْتِقَاءُ الْخِتَانَيْنِ، وَإِنْزَالُ الْمَنِيِّ، وَالْمَوْتُ. وَثَلَاثَةٌ تَخْتَصُّ بِهَا النِّسَاءُ، وَهِيَ الْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْوِلَادَةُ.
Terjemah
Perkara yang mewajibkan mandi ada enam. Tiga berlaku bagi laki-laki dan perempuan: hubungan seksual, keluarnya mani, dan kematian. Tiga lainnya khusus bagi perempuan: haid, nifas, dan melahirkan.
Poin penting
Hubungan seksual mewajibkan mandi meskipun tidak keluar mani.
Keluarnya mani mewajibkan mandi, baik ketika tidur maupun terjaga.
Orang Islam yang meninggal pada dasarnya wajib dimandikan oleh kaum muslimin.
Setelah haid dan nifas berhenti, perempuan wajib mandi sebelum melakukan ibadah yang mensyaratkan kesucian.
Masalah darah perempuan perlu diajarkan dengan bahasa yang santun dan terbuka.
Kondisi medis tertentu perlu dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan dan ahli fikih.
10. Fardu dan sunah mandi
Teks Arab fardu mandi
وَفَرَائِضُ الْغُسْلِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ، وَإِزَالَةُ النَّجَاسَةِ إِنْ كَانَتْ عَلَى بَدَنِهِ، وَإِيصَالُ الْمَاءِ إِلَى جَمِيعِ الشَّعَرِ وَالْبَشَرَةِ.
Terjemah
Fardu mandi ada tiga: berniat, menghilangkan najis apabila terdapat pada badan, dan mengalirkan air ke seluruh rambut serta kulit.
Teks Arab sunah mandi
وَسُنَنُهُ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَةُ، وَالْوُضُوءُ قَبْلَهُ، وَإِمْرَارُ الْيَدِ عَلَى الْجَسَدِ، وَالْمُوَالَاةُ، وَتَقْدِيمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى.
Terjemah
Sunah mandi ada lima: membaca basmalah, berwudu sebelumnya, menggosokkan tangan pada tubuh, melakukannya secara berkesinambungan, dan mendahulukan bagian kanan.
Poin penting
Niat membedakan mandi ibadah dari mandi biasa.
Air harus sampai ke seluruh tubuh, termasuk lipatan kulit dan pangkal rambut.
Benda yang menghalangi air wajib dihilangkan.
Menggunakan pancuran diperbolehkan selama seluruh tubuh terkena air.
Boros air harus dihindari.
Pengajar perlu mendemonstrasikan tata cara mandi secara santun tanpa membuka hal yang tidak pantas.
11. Mandi-mandi yang disunahkan
Teks Arab
وَالِاغْتِسَالَاتُ الْمَسْنُونَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلًا: غُسْلُ الْجُمُعَةِ، وَالْعِيدَيْنِ، وَالِاسْتِسْقَاءِ، وَالْخُسُوفِ، وَالْكُسُوفِ، وَالْغُسْلُ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ، وَالْكَافِرُ إِذَا أَسْلَمَ، وَالْمَجْنُونُ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ إِذَا أَفَاقَا، وَالْغُسْلُ عِنْدَ الْإِحْرَامِ، وَلِدُخُولِ مَكَّةَ، وَلِلْوُقُوفِ بِعَرَفَةَ، وَلِلْمَبِيتِ بِمُزْدَلِفَةَ، وَلِرَمْيِ الْجِمَارِ الثَّلَاثِ، وَلِلطَّوَافِ، وَلِلسَّعْيِ، وَلِدُخُولِ مَدِينَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Terjemah ringkas
Mandi sunah disebutkan pada berbagai keadaan, antara lain untuk salat Jumat, dua hari raya, salat istisqa, gerhana bulan dan matahari, setelah memandikan jenazah, ketika orang kafir masuk Islam, setelah sadar dari gila atau pingsan, ketika akan ihram, memasuki Makkah, wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, melempar jamrah, tawaf, sai, dan memasuki Kota Madinah.
Poin penting
Mandi sunah bertujuan menyempurnakan kebersihan dan kesiapan beribadah.
Mandi Jumat sangat dianjurkan bagi orang yang akan menghadiri salat Jumat.
Mandi sunah tidak menggantikan mandi wajib apabila seseorang masih berhadas besar.
Daftar dalam matan perlu diterangkan bersama perincian hukum dari kitab syarah.
12. Mengusap khuf
Teks Arab
وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ جَائِزٌ بِثَلَاثِ شَرَائِطَ: أَنْ يَبْتَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ، وَأَنْ يَكُونَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ، وَأَنْ يَكُونَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا.
وَيَمْسَحُ الْمُقِيمُ يَوْمًا وَلَيْلَةً، وَالْمُسَافِرُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ بِلَيَالِيهِنَّ.
Terjemah
Mengusap dua khuf diperbolehkan dengan tiga syarat: dipakai setelah bersuci secara sempurna, menutupi bagian kaki yang wajib dibasuh, dan kuat digunakan untuk berjalan. Orang yang menetap boleh mengusap selama sehari semalam, sedangkan musafir selama tiga hari beserta malamnya.
Hal yang membatalkannya
وَيَبْطُلُ الْمَسْحُ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: بِخَلْعِهِمَا، وَانْقِضَاءِ الْمُدَّةِ، وَمَا يُوجِبُ الْغُسْلَ.
“Bolehnya mengusap batal karena tiga hal: melepas khuf, berakhirnya masa mengusap, dan terjadinya sesuatu yang mewajibkan mandi.”
Poin penting
Khuf dipakai dalam keadaan telah berwudu sempurna.
Mengusap dilakukan pada bagian atas khuf, bukan telapaknya.
Masa mengusap memiliki awal perhitungan yang dijelaskan lebih rinci dalam kitab syarah.
Hukum mengusap kaus kaki modern memiliki syarat dan perbedaan pendapat; jangan langsung menyamakannya dengan semua jenis khuf.
Mandi wajib tidak dapat dilakukan hanya dengan mengusap khuf.
13. Tayamum
Teks Arab
وَشَرَائِطُ التَّيَمُّمِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: وُجُودُ الْعُذْرِ بِسَفَرٍ أَوْ مَرَضٍ، وَدُخُولُ وَقْتِ الصَّلَاةِ، وَطَلَبُ الْمَاءِ، وَتَعَذُّرُ اسْتِعْمَالِهِ وَإِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ، وَالتُّرَابُ الطَّاهِرُ الَّذِي لَهُ غُبَارٌ.
Terjemah
Syarat tayamum ada lima: terdapat uzur seperti perjalanan atau sakit, waktu salat telah masuk, telah mencari air, tidak dapat menggunakan air atau tidak menemukan air setelah mencarinya, serta menggunakan tanah suci yang memiliki debu.
Fardu tayamum
وَفَرَائِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ، وَمَسْحُ الْوَجْهِ، وَمَسْحُ الْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ، وَالتَّرْتِيبُ.
“Fardu tayamum ada empat: niat, mengusap wajah, mengusap kedua tangan beserta siku, dan tertib.”
Sunah tayamum
وَسُنَنُهُ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: التَّسْمِيَةُ، وَتَقْدِيمُ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى، وَالْمُوَالَاةُ.
“Sunah tayamum ada tiga: membaca basmalah, mendahulukan kanan, dan berkesinambungan.”
Pembatal tayamum
وَالَّذِي يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: مَا أَبْطَلَ الْوُضُوءَ، وَرُؤْيَةُ الْمَاءِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ، وَالرِّدَّةُ.
“Hal yang membatalkan tayamum ada tiga: segala sesuatu yang membatalkan wudu, menemukan air sebelum melaksanakan salat, dan murtad.”
Poin penting
Tayamum adalah keringanan dari Allah, bukan bentuk bersuci yang lebih rendah secara spiritual.
Tidak menemukan air atau tidak mampu menggunakannya harus berdasarkan alasan yang benar.
Kekhawatiran bahaya karena menggunakan air perlu didasarkan pada pengalaman kuat atau keterangan tenaga medis.
Dalam mazhab Syafi‘i, tayamum dilakukan setelah masuk waktu salat.
Tayamum tidak berarti mengotori wajah dan tangan dengan tanah.
Ketentuan tayamum bagi orang sakit, pengguna perban, gips, atau alat medis perlu dijelaskan secara khusus.
Menurut matan, satu tayamum digunakan untuk satu salat fardu, tetapi dapat digunakan untuk beberapa salat sunah.
14. Najis dan cara menyucikannya
Teks Arab
وَكُلُّ مَائِعٍ خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ نَجِسٌ إِلَّا الْمَنِيَّ، وَغَسْلُ جَمِيعِ الْأَبْوَالِ وَالْأَرْوَاثِ وَاجِبٌ، إِلَّا بَوْلَ الصَّبِيِّ الَّذِي لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ فَإِنَّهُ يَطْهُرُ بِرَشِّ الْمَاءِ عَلَيْهِ.
وَالْحَيَوَانُ كُلُّهُ طَاهِرٌ إِلَّا الْكَلْبَ وَالْخِنْزِيرَ، وَمَا تَوَلَّدَ مِنْهُمَا أَوْ مِنْ أَحَدِهِمَا. وَالْمَيْتَةُ كُلُّهَا نَجِسَةٌ إِلَّا السَّمَكَ وَالْجَرَادَ وَالْآدَمِيَّ.
وَيُغْسَلُ الْإِنَاءُ مِنْ وُلُوغِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ، وَيُغْسَلُ مِنْ سَائِرِ النَّجَاسَاتِ مَرَّةً تَأْتِي عَلَيْهِ، وَالثَّلَاثُ أَفْضَلُ.
Terjemah
Setiap cairan yang keluar dari qubul atau dubur adalah najis, kecuali mani. Semua air kencing dan kotoran wajib dibasuh, kecuali air kencing bayi laki-laki yang belum mengonsumsi makanan sebagai makanan pokok; cara menyucikannya cukup dengan memercikkan air.
Semua hewan yang hidup pada dasarnya suci, kecuali anjing, babi, serta hewan yang lahir dari keduanya atau salah satunya. Semua bangkai adalah najis, kecuali ikan, belalang, dan jasad manusia.
Wadah yang terkena jilatan anjing dibasuh tujuh kali, salah satunya menggunakan tanah. Najis lainnya dibasuh sampai hilang; membasuh tiga kali lebih utama.
Poin penting
Najis harus dihilangkan warna, bau, dan rasanya sejauh kemampuan.
Najis anjing dan babi termasuk najis berat dalam mazhab Syafi‘i.
Bahan pembersih modern tidak otomatis menggantikan tanah dalam penyucian najis berat menurut pendapat yang dijadikan pegangan; masalah ini perlu dirujukkan kepada ulama.
Keringnya najis tidak selalu berarti benda tersebut telah suci.
Darah, urine, dan kotoran harus ditangani dengan memperhatikan kebersihan serta kesehatan.
Air kencing bayi perempuan dibasuh seperti najis biasa menurut mazhab Syafi‘i.
Ketentuan memercikkan air bagi bayi laki-laki memiliki syarat khusus, bukan berlaku kepada semua anak kecil.
Jangan berlebihan sampai terjerumus dalam waswas.
15. Haid, nifas, dan istihadah
Teks Arab
وَيَخْرُجُ مِنَ الْفَرْجِ ثَلَاثَةُ دِمَاءٍ: دَمُ الْحَيْضِ، وَالنِّفَاسِ، وَالِاسْتِحَاضَةِ.
فَالْحَيْضُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ مِنْ فَرْجِ الْمَرْأَةِ عَلَى سَبِيلِ الصِّحَّةِ مِنْ غَيْرِ سَبَبِ الْوِلَادَةِ.
وَالنِّفَاسُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ عَقِبَ الْوِلَادَةِ.
وَالِاسْتِحَاضَةُ هُوَ الدَّمُ الْخَارِجُ فِي غَيْرِ أَيَّامِ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ.
وَأَقَلُّ الْحَيْضِ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَأَكْثَرُهُ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ سِتٌّ أَوْ سَبْعٌ.
وَأَقَلُّ النِّفَاسِ لَحْظَةٌ، وَأَكْثَرُهُ سِتُّونَ يَوْمًا، وَغَالِبُهُ أَرْبَعُونَ يَوْمًا.
وَأَقَلُّ الطُّهْرِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا، وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ.
Terjemah
Darah yang keluar dari kemaluan perempuan terbagi menjadi tiga: darah haid, nifas, dan istihadah.
Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan dalam keadaan sehat dan bukan karena melahirkan. Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Istihadah adalah darah yang keluar di luar masa haid dan nifas.
Masa haid paling sedikit adalah sehari semalam, paling lama lima belas hari, dan kebiasaannya enam atau tujuh hari. Nifas paling sedikit sesaat, paling lama enam puluh hari, dan biasanya empat puluh hari. Masa suci paling sedikit antara dua haid adalah lima belas hari dan tidak ada batas maksimalnya.
Poin penting
Haid dan nifas merupakan keadaan alami, bukan sesuatu yang merendahkan perempuan.
Istihadah termasuk darah penyakit; perempuan yang mengalaminya tetap memiliki kewajiban ibadah dengan tata cara tertentu.
Catatan tanggal, durasi, warna, dan sifat darah membantu menentukan hukum.
Tidak setiap pendarahan disebut haid.
Ketentuan fikih harus dibedakan dari diagnosis medis.
Pendarahan tidak biasa, berkepanjangan, menyakitkan, atau membahayakan harus diperiksakan kepada tenaga kesehatan.
Pembahasan perempuan pemula, perempuan yang memiliki kebiasaan, dan darah yang terputus-putus memerlukan kajian lanjutan.
16. Larangan karena haid, nifas, junub, dan hadas kecil
Haid dan nifas
Teks Arab
وَيَحْرُمُ بِالْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ثَمَانِيَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالصَّوْمُ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، وَدُخُولُ الْمَسْجِدِ، وَالطَّوَافُ، وَالْوَطْءُ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِمَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ.
Terjemah
Karena haid dan nifas, terdapat delapan perkara yang dilarang: salat, puasa, membaca Al-Qur’an, menyentuh dan membawa mushaf, memasuki atau berdiam di masjid, tawaf, berhubungan seksual, serta bersenang-senang pada bagian tubuh antara pusar dan lutut.
Junub
Teks Arab
وَيَحْرُمُ عَلَى الْجُنُبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ، وَالطَّوَافُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ.
Terjemah
Lima perkara dilarang bagi orang junub: salat, membaca Al-Qur’an, menyentuh dan membawa mushaf, tawaf, serta berdiam di masjid.
Hadas kecil
Teks Arab
وَيَحْرُمُ عَلَى الْمُحْدِثِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: الصَّلَاةُ، وَالطَّوَافُ، وَمَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ.
Terjemah
Tiga perkara dilarang bagi orang yang berhadas kecil: salat, tawaf, serta menyentuh dan membawa mushaf.
Poin penting
Perempuan haid dan nifas tidak melaksanakan salat dan tidak wajib menggantinya.
Puasa Ramadan yang ditinggalkan karena haid atau nifas wajib diqada.
Larangan membaca dan menyentuh mushaf memiliki perincian, termasuk zikir berupa ayat, kebutuhan belajar, keadaan darurat, dan penggunaan perangkat digital.
Aplikasi Al-Qur’an pada telepon tidak selalu dihukumi sama persis dengan mushaf cetak, tetapi tetap harus diperlakukan dengan hormat.
Orang junub harus segera mandi ketika akan melakukan ibadah yang mensyaratkan kesucian.
Pembahasan hubungan suami istri harus disampaikan dengan bahasa santun dan kepada peserta yang sesuai.
Perbedaan pendapat ulama dalam masalah tertentu perlu dijelaskan tanpa saling menyalahkan.
Rangkuman Kitab Thaharah untuk Pengajar
Tujuan pembelajaran
Setelah mengikuti kajian, jamaah diharapkan mampu:
Membedakan hadas dan najis.
Menentukan air yang dapat digunakan untuk bersuci.
Mempraktikkan wudu dengan benar.
Mengetahui penyebab batalnya wudu.
Memahami sebab dan tata cara mandi wajib.
Mempraktikkan tayamum.
Mengetahui cara membersihkan najis.
Memahami dasar hukum haid, nifas, dan istihadah.
Menghindari sikap waswas dalam bersuci.
Pesan utama
Bersuci merupakan syarat penting bagi banyak ibadah.
Niat menjadi dasar wudu, mandi, dan tayamum.
Islam mengajarkan kebersihan tanpa pemborosan.
Kemudahan tayamum menunjukkan bahwa syariat tidak bertujuan memberatkan.
Najis harus dibersihkan berdasarkan keyakinan, bukan prasangka.
Perbedaan pendapat fikih harus disikapi dengan ilmu dan adab.
Kesucian lahir hendaknya mengantarkan kepada kesucian hati.
Sumber teks Arab: Matan Abi Syuja‘. Pembagian kitab juga dapat diperiksa pada Maktabah Syamilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar