Senin, 14 September 2026

Bagian 4: Kitab Puasa dan Iktikaf

 

Modul Kajian Matan Al-Ghāyah wa At-Taqrīb

Bagian 4: Kitab Puasa dan Iktikaf

Catatan pengajar: Pembahasan ini mengikuti dasar fikih mazhab Syafi‘i. Persoalan kontemporer seperti infus, suntikan, inhaler, obat tetes, pemeriksaan medis, dan selang makanan memerlukan keterangan ulama serta tenaga medis.


A. Pengertian Puasa

Secara bahasa, shaum berarti menahan diri. Secara syariat, puasa adalah menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan, sejak terbit fajar shadiq sampai matahari terbenam, disertai niat dan dilakukan oleh orang yang memenuhi syarat.

Poin pengantar

  • Puasa Ramadan merupakan rukun Islam.

  • Puasa mengajarkan ketakwaan dan pengendalian diri.

  • Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus.

  • Orang berpuasa wajib menjaga lisan, pandangan, dan perilakunya.

  • Puasa memiliki syarat wajib, syarat sah, rukun, sunah, serta pembatal.


B. Syarat Wajib Puasa

Teks Arab

وَشَرَائِطُ وُجُوبِ الصِّيَامِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: الْإِسْلَامُ، وَالْبُلُوغُ، وَالْعَقْلُ، وَالْقُدْرَةُ عَلَى الصَّوْمِ.

Terjemah

Syarat wajib puasa ada empat:

  1. Beragama Islam.

  2. Telah balig.

  3. Berakal.

  4. Mampu melaksanakan puasa.

Penjelasan

1. Islam

Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi seorang Muslim.

2. Balig

Anak yang belum balig belum wajib berpuasa. Namun, orang tua dianjurkan melatihnya secara bertahap apabila anak mampu.

3. Berakal

Orang yang kehilangan akal tidak terkena kewajiban ketika akalnya tidak berfungsi.

4. Mampu berpuasa

Orang yang secara permanen tidak mampu berpuasa karena usia lanjut atau penyakit kronis mendapatkan ketentuan khusus.

Poin penting untuk pengajian

  • Kemampuan berpuasa mencakup kemampuan fisik yang wajar.

  • Sakit tidak selalu membolehkan berbuka; harus ada kekhawatiran bahaya atau bertambah parah.

  • Penilaian kondisi kesehatan dapat didasarkan pada pengalaman atau keterangan dokter terpercaya.

  • Anak dilatih berpuasa tanpa membahayakan kesehatan dan tumbuh kembangnya.

  • Orang yang tidak mampu berdiri atau bekerja berat belum tentu otomatis tidak mampu berpuasa.

  • Keringanan syariat tidak boleh diremehkan ataupun ditolak karena gengsi.


C. Syarat Sah Puasa

Walaupun matan pada bagian ini langsung menyebut fardu puasa, pengajar perlu menjelaskan syarat sahnya.

Syarat sah secara ringkas

  • Islam.

  • Berakal atau mumayiz.

  • Suci dari haid dan nifas sepanjang siang.

  • Waktu tersebut memang diperbolehkan untuk berpuasa.

Poin penting

  • Perempuan yang mengalami haid atau nifas tidak sah berpuasa.

  • Puasa yang ditinggalkan karena haid atau nifas wajib diqada.

  • Orang yang haid beberapa saat sebelum Magrib, puasanya pada hari itu tidak sah.

  • Orang yang suci sebelum terbit fajar wajib berniat dan berpuasa, walaupun mandi wajib dilakukan setelah terbit fajar.

  • Junub ketika memasuki waktu Subuh tidak membatalkan puasa.


D. Fardu Puasa

Teks Arab

وَفَرَائِضُ الصَّوْمِ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ: النِّيَّةُ، وَالْإِمْسَاكُ عَنِ الْأَكْلِ، وَالشُّرْبِ، وَالْجِمَاعِ، وَتَعَمُّدِ الْقَيْءِ.

Terjemah

Fardu puasa meliputi:

  1. Niat.

  2. Menahan diri dari makan.

  3. Menahan diri dari minum.

  4. Menahan diri dari hubungan seksual.

  5. Menahan diri dari sengaja memuntahkan isi perut.

Redaksi matan menyebut “empat” karena makan dan minum dipandang sebagai satu kelompok menahan diri dari sesuatu yang masuk ke tubuh.


1. Niat puasa

Pengertian

Niat adalah bermaksud melaksanakan puasa tertentu karena Allah. Tempat niat berada di dalam hati.

Contoh lafaz

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هٰذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Terjemah

“Saya berniat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban Ramadan tahun ini karena Allah Ta‘ala.”

Poin penting

  • Lafaz bukan inti niat; yang wajib adalah maksud dalam hati.

  • Puasa wajib memerlukan penentuan jenis puasa.

  • Menurut mazhab Syafi‘i, niat puasa Ramadan dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar.

  • Niat setiap malam diperlukan untuk setiap hari puasa Ramadan.

  • Makan sahur dengan kesadaran hendak berpuasa dapat menunjukkan adanya niat dalam hati.

  • Agar lebih berhati-hati, jamaah dapat berniat setiap malam.

  • Niat satu bulan pada awal Ramadan dapat dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian dengan mengikuti pendapat mazhab yang membolehkannya, tetapi niat harian tetap dijaga menurut mazhab Syafi‘i.

  • Keraguan dalam melafalkan niat tidak perlu diulang terus-menerus hingga menimbulkan waswas.


2. Menahan diri dari pembatal

Menahan diri dimulai sejak terbit fajar shadiq dan berakhir ketika matahari benar-benar terbenam.

Poin penting

  • Imsak dalam jadwal bukan awal waktu puasa; awal puasa adalah terbit fajar.

  • Waktu imsak biasanya merupakan peringatan agar bersiap berhenti makan.

  • Seseorang boleh makan dan minum sampai yakin fajar telah terbit.

  • Berbuka dilakukan setelah yakin matahari terbenam.

  • Kehati-hatian tidak boleh berubah menjadi waswas yang bertentangan dengan jadwal terpercaya.


E. Perkara yang Membatalkan Puasa

Teks Arab

وَالَّذِي يُفْطِرُ بِهِ الصَّائِمُ عَشَرَةُ أَشْيَاءَ:

مَا وَصَلَ عَمْدًا إِلَى الْجَوْفِ أَوِ الرَّأْسِ، وَالْحُقْنَةُ فِي أَحَدِ السَّبِيلَيْنِ، وَالْقَيْءُ عَمْدًا، وَالْوَطْءُ عَمْدًا فِي الْفَرْجِ، وَالْإِنْزَالُ عَنْ مُبَاشَرَةٍ، وَالْحَيْضُ، وَالنِّفَاسُ، وَالْجُنُونُ، وَالرِّدَّةُ.

Terjemah

Perkara yang membatalkan puasa disebutkan sebanyak sepuluh:

  1. Sengaja memasukkan sesuatu ke dalam rongga tubuh melalui jalan terbuka.

  2. Memasukkan obat melalui salah satu dari dua jalan.

  3. Sengaja muntah.

  4. Sengaja melakukan hubungan seksual.

  5. Keluar mani akibat sentuhan langsung atau rangsangan yang disengaja.

  6. Haid.

  7. Nifas.

  8. Gila atau kehilangan akal sepanjang keadaan yang berpengaruh pada keabsahan puasa.

  9. Murtad.

Penghitungan sepuluh diperoleh dengan memisahkan beberapa unsur yang diringkas dalam redaksi matan.


1. Sesuatu masuk ke rongga tubuh

Poin penting

Puasa batal apabila sesuatu:

  • Memiliki wujud atau benda.

  • Masuk melalui lubang tubuh yang dianggap terbuka.

  • Sampai pada batas rongga yang ditentukan fikih.

  • Dilakukan dengan sengaja.

  • Pelakunya mengetahui bahwa ia sedang berpuasa dan memahami larangannya.

Contoh umum

  • Sengaja makan atau minum.

  • Sengaja menelan sisa makanan yang masih mungkin dikeluarkan.

  • Memasukkan benda tertentu melalui mulut atau hidung hingga melewati batas.

  • Merokok atau mengisap vape karena memasukkan zat dengan sengaja.

Tidak membatalkan dalam keadaan tertentu

  • Makan atau minum karena benar-benar lupa.

  • Debu jalan yang masuk tanpa disengaja.

  • Lalat yang masuk tanpa disengaja.

  • Air liur murni yang ditelan secara normal di dalam mulut.

  • Sesuatu yang masuk karena dipaksa dan tidak mampu menolaknya, dengan perincian.


2. Obat dan tindakan medis

Redaksi matan membahas masuknya sesuatu melalui rongga tubuh berdasarkan pengetahuan anatomi pada masa klasik. Penerapannya pada pengobatan modern membutuhkan kajian.

Poin pengajaran

  • Infus nutrisi, transfusi, suntikan, inhaler, obat tetes, endoskopi, dan prosedur medis tidak boleh diputuskan hukumnya hanya dengan dugaan.

  • Jenis obat, lokasi masuk, kandungan, dan tujuan penggunaan harus diketahui.

  • Suntikan melalui kulit tidak otomatis disamakan dengan makan dan minum, tetapi terdapat perincian.

  • Orang sakit harus berkonsultasi dengan dokter mengenai keamanan puasa.

  • Setelah kondisi medis diketahui, hukum fikih dikonsultasikan kepada ulama atau lembaga fatwa terpercaya.

  • Menjaga jiwa didahulukan ketika puasa benar-benar menimbulkan bahaya.


3. Sengaja muntah

Teks ringkas

وَالْقَيْءُ عَمْدًا

Terjemah

“Sengaja memuntahkan isi perut.”

Poin penting

  • Sengaja menyebabkan muntah membatalkan puasa.

  • Muntah yang terjadi tanpa disengaja tidak membatalkan puasa.

  • Jika muntahan kembali tertelan dengan sengaja padahal mampu mengeluarkannya, puasa dapat batal.

  • Setelah muntah, mulut dibersihkan dengan hati-hati agar tidak menelan air.

  • Orang yang mengalami muntah berat perlu mempertimbangkan kondisi kesehatannya.


4. Hubungan seksual pada siang Ramadan

Poin penting

  • Hubungan seksual dengan sengaja pada siang Ramadan membatalkan puasa.

  • Perbuatan tersebut merupakan dosa besar apabila dilakukan tanpa uzur.

  • Selain qada, terdapat kafarat berat dengan persyaratan tertentu.

  • Kafarat khusus berkaitan dengan bentuk pelanggaran tertentu, bukan setiap pembatal puasa.

  • Suami tidak boleh memaksa istri melakukan hubungan seksual.

  • Pembahasan harus disampaikan dengan bahasa santun dan kepada peserta yang sesuai.


5. Keluar mani karena rangsangan

Poin penting

  • Keluar mani karena sentuhan, ciuman, atau rangsangan yang disengaja dapat membatalkan puasa.

  • Mimpi basah tidak membatalkan puasa karena terjadi tanpa kehendak.

  • Keluar madzi tidak sama hukumnya dengan keluar mani, tetapi tetap wajib dibersihkan dan membatalkan wudu.

  • Orang yang khawatir tidak mampu mengendalikan diri hendaknya menjauhi perbuatan yang membangkitkan syahwat pada siang hari.


6. Haid dan nifas

Poin penting

  • Haid atau nifas membatalkan puasa walaupun terjadi beberapa saat sebelum Magrib.

  • Perempuan tidak berdosa karena tidak berpuasa dalam keadaan tersebut.

  • Ia wajib mengqada puasa Ramadan setelah suci.

  • Salat yang ditinggalkan selama haid tidak diqada.

  • Jika darah berhenti pada malam hari, ia berniat puasa walaupun belum sempat mandi sampai setelah Subuh.

  • Darah istihadah tidak menghalangi puasa.


7. Hilang akal dan murtad

Poin penting

  • Puasa merupakan ibadah yang memerlukan Islam dan kesadaran hukum.

  • Pingsan, gila, atau tidak sadar memiliki perincian berdasarkan lamanya keadaan tersebut.

  • Tidur sepanjang siang tidak sama dengan hilang akal, selama niat telah dilakukan dengan sah.

  • Obat bius untuk tindakan medis memerlukan perincian berdasarkan durasi dan kebutuhan.

  • Pembahasan murtad tidak boleh digunakan untuk menuduh seseorang keluar dari Islam secara sembarangan.


F. Sunah dan Adab Puasa

Teks Arab

وَيُسْتَحَبُّ فِي الصَّوْمِ ثَلَاثَةُ أَشْيَاءَ: تَعْجِيلُ الْفِطْرِ، وَتَأْخِيرُ السُّحُورِ، وَتَرْكُ الْهَجَرِ مِنَ الْكَلَامِ.

Terjemah

Tiga perkara dianjurkan ketika berpuasa:

  1. Menyegerakan berbuka setelah matahari terbenam.

  2. Mengakhirkan makan sahur.

  3. Meninggalkan perkataan buruk dan tidak bermanfaat.


1. Menyegerakan berbuka

Poin penting

  • Berbuka dilakukan setelah yakin matahari terbenam.

  • Tidak dianjurkan menunda berbuka karena menganggap penundaan lebih utama.

  • Berbuka dapat dimulai dengan kurma atau air.

  • Jangan berlebihan makan hingga memberatkan ibadah.

  • Membagikan makanan berbuka termasuk amal baik.

  • Orang yang menyediakan makanan tidak boleh merendahkan penerimanya.

Doa berbuka

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan, insyaallah.”


2. Mengakhirkan sahur

Poin penting

  • Sahur mengandung keberkahan.

  • Sahur dapat dilakukan dengan makanan atau minuman walaupun sedikit.

  • Waktunya dimulai setelah pertengahan malam dan lebih utama diakhirkan.

  • Sahur tidak boleh diteruskan setelah fajar terbit.

  • Sahur membantu menjaga kesehatan dan kekuatan beribadah.

  • Makan berlebihan ketika sahur bertentangan dengan tujuan pengendalian diri.


3. Menjaga perkataan dan akhlak

Teks Arab

وَتَرْكُ الْهَجَرِ مِنَ الْكَلَامِ

Terjemah

“Meninggalkan perkataan buruk, keji, dan tidak bermanfaat.”

Poin penting

Orang berpuasa harus menjauhi:

  • Berdusta.

  • Menggunjing.

  • Mengadu domba.

  • Menghina.

  • Bertengkar.

  • Bersaksi palsu.

  • Menyebarkan berita bohong.

  • Menonton atau membaca sesuatu yang haram.

  • Menyakiti orang melalui media sosial.

Perbuatan maksiat tidak selalu membatalkan puasa secara fikih, tetapi dapat merusak atau mengurangi pahalanya.


G. Hari yang Diharamkan atau Dimakruhkan Berpuasa

Teks Arab

وَيَحْرُمُ صِيَامُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ: الْعِيدَانِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ الثَّلَاثَةِ.

وَيُكْرَهُ صَوْمُ يَوْمِ الشَّكِّ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ.

Terjemah

Diharamkan berpuasa pada lima hari:

  1. Hari Idulfitri.

  2. Hari Iduladha.

  3. Tiga hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijah.

Dimakruhkan berpuasa pada hari syak, kecuali bertepatan dengan kebiasaan puasanya.

Hari syak

Hari syak adalah tanggal 30 Syakban ketika terdapat pembicaraan bahwa hilal mungkin terlihat, tetapi kesaksiannya tidak dapat ditetapkan secara sah.

Poin penting

  • Hari raya merupakan waktu makan, minum, dan bersyukur.

  • Puasa nazar maupun qada tidak dilakukan pada hari yang haram berpuasa.

  • Hari Tasyrik adalah hari berzikir dan menikmati rezeki Allah.

  • Larangan puasa hari syak bertujuan menjaga batas antara Syakban dan Ramadan.

  • Orang yang memiliki kebiasaan puasa Senin-Kamis dapat tetap berpuasa jika hari syak bertepatan dengan kebiasaannya, dengan perincian.

  • Penentuan awal Ramadan mengikuti keputusan otoritas agama yang berwenang.


H. Qada dan Kafarat Hubungan Seksual

Teks Arab

وَمَنْ وَطِئَ فِي نَهَارِ رَمَضَانَ عَامِدًا فِي الْفَرْجِ فَعَلَيْهِ الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ، وَهِيَ:

عِتْقُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا، لِكُلِّ مِسْكِينٍ مُدٌّ.

Terjemah

Orang yang dengan sengaja melakukan hubungan seksual pada siang Ramadan wajib mengqada puasa dan membayar kafarat. Urutannya adalah:

  1. Memerdekakan seorang budak beriman.

  2. Jika tidak mampu atau tidak tersedia, berpuasa dua bulan berturut-turut.

  3. Jika benar-benar tidak mampu, memberi makan enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud.

Poin penting

  • Kafarat dilaksanakan secara berurutan, bukan memilih sesuka hati.

  • Ketentuan pertama berkaitan dengan sistem perbudakan pada masa klasik dan tidak dapat dihidupkan kembali.

  • Dalam keadaan sekarang, pelaksanaan berpindah kepada puasa dua bulan berturut-turut.

  • Ketidakmampuan berpuasa harus nyata, bukan karena merasa berat.

  • Jika tidak mampu, beralih kepada memberi makan enam puluh orang miskin.

  • Kafarat tidak menggugurkan kewajiban bertobat.

  • Qada tetap wajib dilakukan.

  • Rincian tanggung jawab suami dan istri perlu dijelaskan berdasarkan kitab syarah.

  • Kasus pribadi sebaiknya dikonsultasikan secara tertutup kepada ulama.


I. Orang Meninggal yang Memiliki Utang Puasa

Teks Arab

وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ مِنْ رَمَضَانَ أُطْعِمَ عَنْهُ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ.

Terjemah

Orang yang meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa Ramadan, dikeluarkan makanan atas namanya sebanyak satu mud untuk setiap hari.

Penjelasan

  • Ketentuan berlaku jika orang tersebut sebelumnya memiliki kesempatan mengqada, tetapi belum melaksanakannya sampai meninggal.

  • Jika sakitnya terus berlangsung sampai meninggal dan tidak pernah memiliki kesempatan mengqada, ia tidak berdosa.

  • Dalam mazhab Syafi‘i terdapat pembahasan mengenai keluarga yang berpuasa untuk orang yang meninggal.

  • Pendapat yang dipilih Imam An-Nawawi membolehkan wali berpuasa menggantikannya atau mengeluarkan makanan dengan ketentuan tertentu.

  • Harta peninggalan tidak boleh digunakan tanpa memperhatikan urutan hak dan persetujuan yang disyaratkan.


J. Orang Tua dan Penderita Penyakit Kronis

Teks Arab

وَالشَّيْخُ إِذَا عَجَزَ عَنِ الصَّوْمِ يُفْطِرُ، وَيُطْعِمُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدًّا.

Terjemah

Orang lanjut usia yang tidak mampu berpuasa boleh berbuka dan memberikan makanan sebanyak satu mud untuk setiap hari.

Poin penting

  • Keringanan juga berlaku bagi orang yang menderita penyakit kronis tanpa harapan sembuh.

  • Fidyah tidak menggantikan puasa bagi orang yang sebenarnya masih mampu.

  • Jumlah fidyah mengikuti ketetapan ulama atau lembaga agama setempat.

  • Fidyah diberikan kepada fakir atau miskin.

  • Apabila penyakit bersifat sementara, kewajibannya adalah qada, bukan langsung fidyah.

  • Kondisi medis perlu dinilai secara jujur dan profesional.


K. Puasa Ibu Hamil dan Menyusui

Teks Arab

وَالْحَامِلُ وَالْمُرْضِعُ إِنْ خَافَتَا عَلَى أَنْفُسِهِمَا أَفْطَرَتَا وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ.

وَإِنْ خَافَتَا عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا، وَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ وَالْكَفَّارَةُ عَنْ كُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ.

Terjemah

Perempuan hamil dan menyusui yang khawatir terhadap dirinya boleh berbuka dan wajib mengqada.

Jika kekhawatiran hanya tertuju kepada anak atau janin, keduanya boleh berbuka dan wajib mengqada serta memberikan satu mud makanan untuk setiap hari.

Tabel ringkas mazhab Syafi‘i

Alasan berbukaKewajiban
Khawatir terhadap diri sendiriQada
Khawatir terhadap diri dan anakQada
Khawatir hanya terhadap janin atau anakQada dan fidyah

Poin penting

  • Keselamatan ibu dan anak harus dijaga.

  • Kekhawatiran harus memiliki dasar yang wajar.

  • Kondisi setiap kehamilan dan masa menyusui berbeda.

  • Ibu sebaiknya berkonsultasi kepada dokter atau bidan yang memahami kondisinya.

  • Fidyah dalam keadaan ini tidak menggugurkan qada menurut mazhab Syafi‘i.

  • Terdapat perbedaan pendapat antarmazhab; jamaah hendaknya mengikuti bimbingan ulama yang dipercaya.

  • Keluarga harus mendukung kesehatan ibu dan tidak memaksanya.


L. Orang Sakit dan Musafir

Teks Arab

وَالْمَرِيضُ وَالْمُسَافِرُ سَفَرًا طَوِيلًا يُفْطِرَانِ وَيَقْضِيَانِ.

Terjemah

Orang sakit dan musafir dalam perjalanan jauh diperbolehkan berbuka dan kemudian mengqada puasanya.

Orang sakit

Diperbolehkan berbuka apabila puasa:

  • Memperparah penyakit.

  • Memperlambat kesembuhan.

  • Menimbulkan bahaya yang berarti.

  • Menyebabkan kesulitan berat di luar kebiasaan.

Musafir

Keringanan berlaku apabila:

  • Perjalanan mencapai jarak yang diakui syariat.

  • Tujuan perjalanan bukan maksiat.

  • Perjalanan telah dimulai sesuai ketentuan.

  • Syarat-syarat rukhsah lainnya terpenuhi.

Poin penting

  • Musafir boleh tetap berpuasa apabila tidak mengalami kesulitan.

  • Berbuka dapat lebih utama jika puasa membahayakan atau sangat memberatkan.

  • Orang yang berbuka wajib mengganti pada hari lain.

  • Perjalanan dengan pesawat tetap mengikuti waktu terbit dan terbenam matahari di lokasi orang tersebut.

  • Perubahan zona waktu membutuhkan perhitungan yang cermat.

  • Awak kendaraan, pilot, pelaut, dan pekerja dengan perjalanan berulang memiliki perincian hukum.

  • Keputusan hendaknya mengikuti fatwa yang terpercaya.


M. Qada, Fidyah, dan Kafarat

IstilahPengertian
QadaMengganti puasa pada hari lain
FidyahMemberi makanan kepada fakir atau miskin karena sebab tertentu
KafaratTebusan akibat pelanggaran tertentu
ImsakMenahan diri dari pembatal puasa
MudUkuran makanan klasik yang konversinya mengikuti standar ulama setempat

Poin penting

  • Tidak semua orang yang berbuka cukup membayar fidyah.

  • Tidak semua pembatal puasa mewajibkan kafarat besar.

  • Orang sakit sementara dan musafir wajib qada.

  • Orang tua renta dan penderita penyakit permanen membayar fidyah.

  • Sengaja membatalkan puasa tanpa uzur tetap mewajibkan tobat.

  • Qada Ramadan sebaiknya segera dilakukan.

  • Menunda qada sampai Ramadan berikutnya tanpa uzur memiliki konsekuensi tambahan menurut mazhab Syafi‘i.


N. Iktikaf

Teks Arab

وَالِاعْتِكَافُ سُنَّةٌ مُسْتَحَبَّةٌ، وَلَهُ شَرْطَانِ: النِّيَّةُ، وَاللُّبْثُ فِي الْمَسْجِدِ.

وَلَا يَخْرُجُ مِنَ الِاعْتِكَافِ الْمَنْذُورِ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ، أَوْ عُذْرٍ مِنْ حَيْضٍ، أَوْ مَرَضٍ لَا يُمْكِنُ الْمَقَامُ مَعَهُ، وَيَبْطُلُ بِالْوَطْءِ.

Terjemah

Iktikaf merupakan ibadah sunah. Iktikaf memiliki dua ketentuan pokok:

  1. Niat.

  2. Berdiam di masjid.

Orang yang melaksanakan iktikaf nazar tidak keluar dari masjid kecuali untuk kebutuhan manusiawi atau uzur, seperti haid dan penyakit yang membuatnya tidak dapat tetap tinggal. Iktikaf batal karena hubungan seksual.


Pengertian iktikaf

Iktikaf adalah berdiam diri di masjid oleh orang tertentu dengan niat beribadah kepada Allah.

Poin penting

  • Iktikaf dapat dilakukan kapan saja.

  • Iktikaf sangat dianjurkan pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

  • Tujuannya adalah memusatkan diri pada ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

  • Puasa bukan syarat sah iktikaf menurut pendapat yang digunakan dalam mazhab Syafi‘i.

  • Iktikaf harus dilakukan di masjid.

  • Seseorang keluar untuk kebutuhan yang tidak mungkin dilakukan di masjid, seperti buang hajat.

  • Iktikaf nazar lebih ketat daripada iktikaf sunah.

  • Perempuan boleh beriktikaf dengan menjaga keamanan, kehormatan, hak keluarga, dan peraturan masjid.

  • Iktikaf tidak boleh menyebabkan seseorang menelantarkan kewajiban nafkah atau pekerjaan yang wajib.

  • Penggunaan telepon dan media sosial hendaknya dibatasi agar tujuan iktikaf tercapai.


Amalan selama iktikaf

Jamaah dapat mengisi iktikaf dengan:

  • Salat fardu berjamaah.

  • Salat malam.

  • Membaca dan mempelajari Al-Qur’an.

  • Berzikir dan beristigfar.

  • Berselawat.

  • Berdoa.

  • Mempelajari ilmu agama.

  • Melakukan muhasabah.

  • Berdiam dengan menjaga hati dari kesibukan yang tidak bermanfaat.

Hal yang perlu dihindari

  • Percakapan berlebihan.

  • Mengganggu jamaah lain.

  • Mengotori masjid.

  • Berdagang di dalam masjid.

  • Menjadikan iktikaf sebagai tempat berkumpul tanpa tujuan ibadah.

  • Mengambil foto atau video orang lain tanpa izin.

  • Tidur hingga meninggalkan salat berjamaah.

  • Mengabaikan kebersihan dan peraturan masjid.


O. Lailatulqadar

Walaupun tidak disebut secara khusus dalam potongan matan ini, iktikaf sepuluh malam terakhir berkaitan erat dengan pencarian Lailatulqadar.

Poin penting

  • Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan.

  • Waktunya berada pada salah satu malam Ramadan.

  • Lebih diharapkan pada sepuluh malam terakhir, khususnya malam-malam ganjil.

  • Kepastian malamnya dirahasiakan agar umat bersungguh-sungguh dalam beribadah.

  • Tanda-tanda tidak boleh dijadikan alasan meninggalkan ibadah pada malam lainnya.

Doa yang dianjurkan

اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”


P. Kesalahan yang Sering Terjadi

1. Menganggap imsak sebagai awal puasa

Awal puasa adalah terbit fajar shadiq, bukan waktu peringatan imsak.

2. Tidak berniat pada malam hari

Dalam mazhab Syafi‘i, puasa wajib harus diniatkan sebelum terbit fajar.

3. Berlebihan ketika berbuka

Berbuka bukan kesempatan membalas rasa lapar dengan makan tanpa kendali.

4. Menjaga lapar tetapi tidak menjaga lisan

Maksiat dapat menghilangkan kesempurnaan dan pahala puasa.

5. Mudah menetapkan tindakan medis membatalkan puasa

Setiap tindakan medis harus dilihat bentuk dan jalur penggunaannya.

6. Membayar fidyah padahal masih mampu mengqada

Fidyah tidak boleh dijadikan jalan pintas bagi orang yang masih wajib mengqada.

7. Memaksakan puasa ketika membahayakan

Syariat memberikan keringanan kepada orang yang benar-benar membutuhkan.

8. Menunda qada tanpa alasan

Utang puasa sebaiknya ditunaikan sebelum datang Ramadan berikutnya.


Q. Rangkuman Kitab Puasa untuk Pengajar

Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti kajian, jamaah diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian puasa.

  2. Menyebutkan syarat wajib dan syarat sah puasa.

  3. Memahami waktu dan cara niat.

  4. Mengetahui perkara yang membatalkan puasa.

  5. Membedakan pembatal puasa dari perusak pahala.

  6. Mengetahui sunah dan adab puasa.

  7. Membedakan qada, fidyah, dan kafarat.

  8. Memahami keringanan bagi orang sakit, musafir, ibu hamil, dan ibu menyusui.

  9. Menjelaskan dasar pelaksanaan iktikaf.

Pesan utama

  • Tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan.

  • Puasa yang benar mengendalikan perut, syahwat, lisan, dan perilaku.

  • Keringanan bagi orang sakit dan musafir merupakan rahmat Allah.

  • Masalah kesehatan harus ditangani dengan ilmu, bukan prasangka.

  • Qada, fidyah, dan kafarat memiliki sebab yang berbeda.

  • Ramadan harus menghasilkan perubahan akhlak setelah bulan itu berakhir.

  • Iktikaf merupakan kesempatan memusatkan hati kepada Allah.

Pertanyaan diskusi

  • Kapan niat puasa Ramadan dilakukan?

  • Apakah makan karena lupa membatalkan puasa?

  • Apa perbedaan sakit sementara dan penyakit permanen?

  • Kapan ibu hamil wajib qada dan fidyah?

  • Apa perbedaan qada, fidyah, dan kafarat?

  • Apakah muntah selalu membatalkan puasa?

  • Apakah iktikaf harus dilakukan selama sepuluh hari?

  • Bagaimana menjaga puasa dalam penggunaan media sosial?

Sumber teks matan: Matan Abi Syuja‘ dan Maktabah Syamilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagian 13: Bab Pembebasan Budak — Bab Terakhir

  Lanjutan Kajian Matan Al-Ghāyah wa At-Taqrīb Bagian 13: Bab Pembebasan Budak — Bab Terakhir بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Bab ini...